Iran secara tegas tetap melarang kapal-kapal pengangkut minyak yang terafiliasi dengan AS dan Israel, melintasi Selat Hormuz. Foto: Al Jazeera
TEHERAN, (ERAKINI) —Iran tak ciut dengan ancaman keras Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan menghancurkanjembatan dan pembangkit listrik jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz hingga Selasa (7/4/2026). secara tegas tetap melarang kapal-kapal pengangkut yang terafiliasi dengan AS dan Israel, melintasi .
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, langkah itu merupakan bagian dari kebijakan keamanan untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas kawasan.
Baqaei menyebut Iran telah berkoordinasi dengan Oman terkait situasi di Selat Hormuz. Pertemuan tersebut dilakukan di tingkat wakil menteri luar negeri kedua negara.
“Iran dan Oman sebagai negara pesisir memiliki kepentingan bersama dalam memastikan keamanan dan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz,” ujar Baqaie dalam konferensi pers mingguan, Senin (6/4/2026), dilansir kantor berita Tasnim.
Baqaei menegaskan, Iran telah menerapkan serangkaian langkah keamanan yang merujuk pada hukum internasional guna menjamin keselamatan jalur pelayaran strategis tersebut.
Iran tetap membuka akses bagi kapal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik, dengan penerapan protokol khusus untuk menjamin keselamatan pelayaran. Namun, kapal-kapal yang dianggap sebagai pihak musuh tidak akan diizinkan melintas.
Menurut Baqaei, pembahasan dengan Oman akan terus dilakukan untuk menyusun mekanisme bersama terkait pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz hingga tercapai hasil yang memuaskan.
Baqaei menegaskan bahwa langkah pemantauan di Selat Hormuz bertujuan mencegah tindakan kriminal oleh musuh dan sekutunya. Iran telah menyiapkan mekanisme khusus untuk menjamin keamanan pelayaran bagi negara-negara sahabat yang menjalin hubungan baik dengan Teheran.
Target Hancurkan Jembatan dan Pembangkit Listrik
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz hingga Rabu dini hari waktu setempat. Ancaman itu disampaikan melalui unggahan bernada kasar di platform Truth Social miliknya.
“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya sekaligus, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!!,” tulisnya, dilansir Al Jazeera, Senin (6/4).
Ancaman tersebut merupakan bagian dari serangkaian tenggat waktu yang berulang kali diumumkan Trump sejak 21 Maret, ketika ia pertama kali mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik dan energi Iran.
Namun, pada setiap kesempatan, ia juga menunda tenggat tersebut dengan alasan adanya negosiasi yang diklaim sedang berlangsung dengan Iran, yang berulang kali dibantah oleh Teheran.
Pada Minggu malam, Trump menetapkan tenggat baru yang lebih spesifik, yakni Selasa pukul 20.00 waktu AS, atau sekitar pukul 03.30 waktu setempat di Iran.
Dengan waktu kurang dari dua hari, sejumlah mediator, termasuk Pakistan, Mesir, dan Turki, berupaya mendorong terobosan guna setidaknya menunda.
Sejauh ini, perang AS-Israel terhadap Iran telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di negara tersebut. Secara paralel, konflik juga menewaskan sekitar 1.500 orang di Lebanon, lebih dari 100 orang di Irak, 24 orang di Israel, dan 27 orang di negara-negara Teluk.
AS sendiri kehilangan 13 personel militer dan pada Minggu melakukan operasi penyelamatan berisiko tinggi untuk mengevakuasi seorang perwira setelah jet tempur F-15 miliknya ditembak jatuh di Iran.