Akibat Blokade Israel, Warga Gaza Gunakan Air Terkontaminasi dan Terancam Diserang Epidemi
Akhmad Baihaqi Arsyad







"Tingkat pencemaran air yang digunakan warga di Jalur Gaza sangat tinggi. Penggunaan air kontaminasi selama sepekan ini menimbulkan sejumlah kasus diare pada anak-anak yang berada di pusat-pusat penampungan," kata Rami Al-Abadia.
Al-Abadia menandaskan orang-orang yang berada di pusat-pusat penampungan kekurangan alat kebersihan pribadi, sampai menimbulkan sejumlah kasus penyakit kulit. Ia juga mengingatkan tumpukan sampah di jalanan mengingat Gaza menghasilkan 2 ribu ton sampah setiap hari dan petugas sanitasi tak bisa bekerja karena pemboman besar-besaran Israel.
Israel, memasuki hari keepuluh konflik dengan Hamas, terus membombardir dan memblokade Jalur Gaza. Sudah lebih dari satu juta orang atau hampir separuh total penduduk Jalur Gaza mengungsi, kata Badan Pemulihan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA).
Gaza mengalami krisis kemanusiaan mengerikan tanpa listrik, sementara pasokan air, makanan, bahan bakar dan obat-obatan mulai menipis ketika warga sipil pindah ke wilayah selatan setelah Israel memerintahkan mereka meninggalkan bagian utara Gaza.
Pertempuran dimulai ketika pada 7 Oktober Hamas meluncurkan Operasi Banjir Al-Aqsa, serangan mendadak ke segala penjuru termasuk serentetan tembakan roket dan penyusupan ke Israel melalui darat, laut dan udara.
Serangan dilancarkan sebagai balasan setelah Masjid Al-Aqsa disebut Israel dan akibat kekerasan terhadap warga Palestina yang dilakukan Israel yang terus meningkat.
Sebagai balasan militer Israel meluncurkan Operasi Pedang Besi dengan menargetkan Hamas di Jalur Gaza.
Paling sedikit 2.808 warga Palestina, termasuk 750 anak-anak tewas akibat serangan udara Israel di Gaza. (ant)
