Foto yang diambil dari video unggahan militer AS di media sosial pada 18 Juli 2026 ini memperlihatkan pasukan Amerika sedang menaiki helikopter di atas kapal perang di Laut Arab. Militer AS menyatakan bahwa sejauh ini, 16 personel militer telah tewas dan lebih dari 430 orang terluka sejak perang dengan Iran dimulai pada 28 Februari. (Foto: @CENTCOM).
NEW JERSEY, (ERAKINI) - Konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat dan Iran kembali menghadirkan pukulan bagi Washington. MiliterAmerika Serikat pada Sabtu (19/7/2026) mengonfirmasi bahwa dua personel tambahan tewas dalam operasi yang berlangsung melawan . Dengan demikian, jumlah anggota yang kehilangan nyawa sejak pecahnya konflik kini mencapai 16 orang.
Bertambahnya korban di pihak Amerika menjadi gambaran bahwa perang modern yang didominasi rudal, pesawat tempur, dan drone mampu menimbulkan kerugian besar tanpa harus melibatkan pertempuran darat secara langsung. Strategi pertahanan dan serangan yang dijalankan Iran dinilai mampu memberikan tekanan terhadap jaringan militer Amerika yang tersebar di berbagai negara Timur Tengah.
Meningkatnya eskalasi terjadi setelah jalur diplomasi dan perundingan damai gagal menghasilkan kesepakatan. Situasi tersebut membuat sejumlah pangkalan dan fasilitas yang terkait dengan kepentingan Amerika di kawasan menjadi sasaran serangan balasan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya beralasan bahwa operasi militer terhadap Iran dilakukan untuk mencegah Teheran mengembangkan program senjata nuklir. Namun hingga Sabtu sore, Trump belum memberikan tanggapan publik terkait laporan terbaru mengenai jatuhnya korban militer Amerika di Yordania. Gedung Putih hanya meneruskan keterangan resmi yang dirilis oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Tidak lama setelah konflik pecah pada 28 Februari, Iran melancarkan serangan pesawat nirawak yang menghantam area pelabuhan sipil di Kuwait. Serangan tersebut mengakibatkan enam tentara Amerika tewas.
Korban merupakan personel dari satuan logistik dan pendukung operasi yang bermarkas di Iowa. Saat serangan terjadi, mereka dilaporkan bertugas di sebuah bangunan menyerupai kontainer yang tidak dilengkapi sistem perlindungan memadai.
Korban ketujuh dari pihak Amerika menyusul beberapa waktu kemudian. Seorang tentara meninggal dunia setelah mengalami luka berat akibat serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi pada 1 Maret.
Pada Maret, Amerika kembali kehilangan enam personel militer ketika pesawat pengisian bahan bakar KC-135 yang mendukung operasi tempur jatuh di wilayah Irak. Menurut pengakuan CENTCOM, pesawat tersebut berada di wilayah udara yang dikategorikan aman ketika mengalami insiden yang melibatkan pesawat lain. Meski demikian, pihak militerAS tidak menjelaskan secara rinci penyebab kejadian tersebut.
Kerugian Amerika bertambah setelah seorang pilot Angkatan Laut dilaporkan tewas dalam kecelakaan helikopter di Laut Arab. Dalam keterangan resminya, Angkatan Laut AS menyebut insiden yang terjadi pada 1 Juli itu sebagai pendaratan darurat. Mereka juga menegaskan bahwa "tidak ada indikasi bahwa keadaan darurat tersebut disebabkan oleh tindakan musuh."
Tiga awak lainnya yang berada di dalam helikopter berhasil dievakuasi dan selamat. Pada perkembangan terbaru, Komando Pusat AS mengungkapkan bahwa dua personel militer tewas ketika menghadapi serangan rudal balistik dan drone Iran di Yordania.
Selain itu, militer Amerika mengakui bahwa satu personel lainnya hingga kini masih berstatus hilang. Dalam pernyataannya, pihak militer menyebut anggota tersebut "saat ini" belum ditemukan pasca-serangan.
Washington juga memutuskan menunda pengumuman identitas korban hingga proses pemberitahuan kepada keluarga selesai dilakukan.
Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan bahwa rakyatnya turut menanggung dampak besar akibat operasi militer Amerika. Otoritas Iran menyatakan sedikitnya 50 orang meninggal dunia dan lebih dari 500 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan AS selama tiga pekan terakhir. Salah satu insiden paling mematikan terjadi pada Jumat ketika serangan terhadap sebuah jembatan menyebabkan delapan warga kehilangan nyawa.
Selain warga Iran, konflik ini juga memakan korban dari kalangan pekerja kapal, tenaga kerja asing, serta masyarakat sipil di sejumlah negara kawasan Teluk, Lebanon, dan wilayah lainnya yang terdampak oleh meluasnya peperangan.