Masuk Hari Ke-9, Aksi Saling Serang Iran-AS Diwarnai Gempuran ke Suriah, Yordania, Kuwait hingga Hormuz
Akhmad Baihaqi Arsyad
DUBAI, (ERAKINI) - Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Memasuki hari kesembilan, kedua negara kembali saling melancarkan serangan pada Senin (20/7/2026) dini hari, memperluas medan pertempuran ke sejumlah wilayah strategis di Timur Tengah, termasuk Suriah, Yordania, Kuwait, Bahrain, hingga perairan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Washington kembali melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Iran sebagai respons atas meningkatnya korban di pihak militer AS. "Kami kembali menghantam mereka dengan sangat keras malam ini," kata Trump, merujuk pada laporan yang menyebutkan 17 personel militer Amerika tewas sejak operasi militer terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Ketegangan yang terus meningkat langsung memengaruhi pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga melampaui US$90 per barel, sementara laporan militer Inggris menyebut sebuah kapal terbakar di kawasan selatan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.
Di pihak Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan. Salah satu sasaran yang diklaim terkena serangan adalah pangkalan Al-Tanf di Suriah, yang selama ini menjadi pusat operasi pasukan AS dan sekutunya di dekat perbatasan Suriah, Irak, dan Yordania.
Menurut IRGC, operasi tersebut merupakan respons atas gugurnya sejumlah personel Iran yang berasal dari wilayah Iranshahr di tenggara negara itu. Hingga berita ini diturunkan, militer Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim tersebut.
Selain Suriah, Garda Revolusi juga mengklaim berhasil menyerang fasilitas militer AS di Bandara Aqaba, Yordania. Dalam pernyataannya, Iran menyebut rudal balistik yang diluncurkan berhasil menghantam sejumlah pesawat angkut berat serta pesawat komando dan kendali milik Amerika Serikat. "Pesawat angkut berat serta pesawat komando dan kendali milik Amerika menjadi sasaran rudal balistik," demikian pernyataan IRGC yang disiarkan media pemerintah Iran.
Namun, militer Yordania membantah adanya kerusakan signifikan. Otoritas setempat menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat beberapa rudal yang masuk dan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan yang dilaporkan.
Situasi serupa juga terjadi di Bahrain. Sirene peringatan serangan udara kembali berbunyi dua kali pada Senin dini hari di negara yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat tersebut. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan segera menuju lokasi perlindungan terdekat. "Warga dan penduduk diimbau untuk tetap tenang dan menuju tempat aman terdekat," demikian pernyataan resmi pemerintah Bahrain.
Kedutaan Besar AS di Manama juga mengeluarkan peringatan keamanan setelah menerima informasi bahwa Iran kemungkinan menargetkan beberapa lokasi strategis di pusat ibu kota Bahrain. Warga negara Amerika diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti instruksi aparat keamanan setempat.
Sejak konflik kembali memanas, Bahrain, Kuwait, dan Yordania berulang kali mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka untuk menghadang serangan rudal maupun pesawat nirawak Iran, meskipun sebelumnya sempat terjadi gencatan senjata singkat serta penandatanganan nota kesepahaman antara Washington dan Teheran.
Di Kuwait, IRGC mengklaim telah menghancurkan sejumlah fasilitas militer AS, termasuk sistem radar peringatan dini yang disebut mengalami kerusakan total. "Pasukan Iran menghancurkan total sistem radar peringatan dini AS dalam serangan drone. Dalam serangan terpisah, mereka menghantam gudang peralatan dan suku cadang pesawat serta hanggar drone MQ-9 di Pangkalan Udara Ali Al-Salem, yang menyebabkan terbakarnya sejumlah drone," demikian pernyataan Garda Revolusi yang dikutip kantor berita IRNA.

















