Tangkapan layar video yang beredar di media sosial dari Iran, tampak para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan-jalan di Teheran, Sabtu (10/1/2026). Foto: UGC via AP
JAKARTA, (ERAKINI) — Aksi protes nasional yang menantang sistem teokrasi Iran terus berlanjut dan semakin mencekam. Hingga Minggu (11/1/2026) atau memasuki pekan ketiga, para demonstran masih memadati jalan-jalan di ibu kota Teheran dan kota terbesar kedua, Mashhad.
Sementara itu, kekerasan yang menyertai demonstrasi dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 116 orang, menurut para aktivis. Selain itu, sekitar 2.600 orang lainnya telah ditahan, berdasarkan data Human Rights Activists News Agency yang berbasis di .
Pemutusan akses internet dan pemblokiran jaringan telepon membuat pemantauan aksi protes dari luar negeri menjadi semakin sulit. Dilansir kantor berita AP, di tengah situasi semakin rumit, Ketua Parlemen Iran memperingatkan bahwa militer Amerika Serikat (AS) dan Israel akan menjadi “target yang sah” jika kedua negara menyerang Republik Islam Iran, sebagaimana ancaman yang disampaikan Presiden Donald Trump.
Mohammad Bagher Qalibaf menyampaikan peringatan itu saat para anggota parlemen menyerbu mimbar dan meneriakkan slogan, “Mati untuk Amerika!” Pihak-pihak di luar Iran khawatir pemadaman informasi ini akan memberi ruang bagi kelompok garis keras di aparat keamanan untuk melakukan penindakan brutal.
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa AS siap menyerang Iran demi melindungi para demonstran damai. Trump menyatakan dukungannya kepada para pengunjuk rasa.
“Iran sedang melihat KEBEBASAN, mungkin seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!” tulis unggahan Trump di media sosial.
The New York Times dan Wall Street Journal mengutip pejabat AS anonim, melaporkan pada Sabtu malam bahwa Trump telah menerima sejumlah opsi militer untuk menyerang Iran, meski belum mengambil keputusan akhir.
Departemen Luar Negeri AS secara terpisah memperingatkan agar tidak meremehkan ancaman Presiden Trump. Jika Trump sudah mengatakan akan melakukan sesuatu, pasti serius.
Aksi di Parlemen
Televisi pemerintah Iran menyiarkan langsung sidang parlemen. Qalibaf, tokoh garis keras yang pernah mencalonkan diri sebagai presiden, menyampaikan pidato yang memuji kepolisian dan Garda Revolusi Iran, khususnya pasukan sukarelawan Basij, karena dinilai tetap berdiri teguh menghadapi gelombang protes.
“Rakyat Iran harus tahu bahwa kami akan menghadapi mereka dengan cara paling keras dan menghukum siapa pun yang ditangkap,” kata Qalibaf.
Ia kemudian secara terbuka mengancam Israel, yang ia sebut sebagai wilayah pendudukan, serta militer AS, bahkan membuka kemungkinan serangan pendahuluan.
“Jika terjadi serangan terhadap Iran, baik wilayah pendudukan maupun seluruh pusat militer, pangkalan, dan kapal Amerika di kawasan ini akan menjadi target sah kami,” ujarnya. “Kami tidak menganggap diri kami hanya akan bereaksi setelah serangan terjadi, dan akan bertindak berdasarkan setiap tanda objektif adanya ancaman,” lanjutnya.
Belum jelas seberapa serius Iran akan melancarkan serangan, terutama setelah sistem pertahanan udaranya rusak dalam perang 12 hari melawan Israel pada Juni lalu. Keputusan perang berada di tangan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang berusia 86 tahun.
Protes di Teheran dan Mashhad
Video-video yang beredar daring dari Iran—diduga dikirim menggunakan pemancar satelit Starlink—menunjukkan para demonstran berkumpul di kawasan Punak, Teheran utara. Dalam rekaman tersebut, terlihat aparat menutup jalan, sementara para pengunjuk rasa mengangkat ponsel dengan lampu menyala. Ada pula yang memukul benda logam dan menyalakan kembang api.
Rekaman lain memperlihatkan demonstran berbaris damai di jalan serta pengendara membunyikan klakson sebagai bentuk protes.
“Pola protes di ibu kota sebagian besar berbentuk kumpulan kecil yang tersebar, singkat, dan dinamis. Pendekatan ini muncul sebagai respons atas kehadiran aparat keamanan yang masif dan tekanan di lapangan,” ujar Human Rights Activists News Agency.
“Pada saat yang sama, dilaporkan adanya drone pengawas yang terbang di atas lokasi serta pergerakan pasukan keamanan di sekitar titik-titik protes, yang menunjukkan pemantauan dan pengendalian keamanan berkelanjutan,” lanjutnya/
Di Mashhad, sekitar 725 kilometer timur laut Teheran, rekaman memperlihatkan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Puing-puing yang terbakar dan tempat sampah terlihat menghalangi jalan. Mashhad merupakan lokasi Makam Imam Reza, situs paling suci bagi Islam Syiah, sehingga protes di kota itu memiliki makna simbolis besar bagi teokrasi Iran.
Aksi protes juga dilaporkan terjadi di Kerman, sekitar 800 kilometer tenggara Teheran. Televisi pemerintah Iran pada Minggu pagi menayangkan laporan dari sejumlah kota yang memperlihatkan kondisi relatif tenang, lengkap dengan penanda tanggal di layar. Namun, Teheran dan Mashhad tidak ditampilkan. Media tersebut juga menyiarkan demonstrasi pro-pemerintah di Qom dan Qazvin.
Khamenei memberi sinyal akan adanya pengetatan keamanan meski ada peringatan dari AS. Pemerintah Iran juga telah meningkatkan ancaman. Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad memperingatkan bahwa siapa pun yang ikut dalam protes akan dianggap sebagai “musuh Tuhan,” tuduhan yang dapat berujung hukuman mati. Pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah itu menyebutkan bahwa bahkan mereka yang “membantu para perusuh” akan menghadapi tuduhan serupa.
Pemerintah Iran telah memutus akses internet dan sambungan telepon internasional sejak Kamis, meski masih mengizinkan sejumlah media milik negara dan semi-resmi untuk menerbitkan berita.
Jaringan berita Al Jazeera yang didanai negara Qatar melaporkan secara langsung dari Iran dan tampak menjadi satu-satunya media asing besar yang dapat beroperasi di sana.
Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, yang sebelumnya menyerukan aksi protes pada Kamis dan Jumat, kembali meminta para demonstran turun ke jalan pada Sabtu dan Minggu. Ia mengimbau massa membawa bendera lama Iran bergambar singa dan matahari serta simbol nasional lain dari era Shah untuk “merebut ruang publik.”
Dukungan Pahlavi terhadap Israel menuai kritik di masa lalu, terutama setelah perang 12 hari tersebut. Dalam beberapa aksi, demonstran meneriakkan dukungan terhadap Shah, meski belum jelas apakah itu bentuk dukungan kepada Pahlavi atau kerinduan pada masa sebelum Revolusi Islam 1979.
Gelombang protes ini bermula pada 28 Desember 2025 akibat anjloknya nilai mata uang rial Iran di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, termasuk yang terkait dengan program nuklir. Aksi tersebut kemudian meningkat dan berkembang menjadi tuntutan yang secara langsung menantang sistem teokrasi Iran.