DAVOS, (ERAKINI) - Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, dipastikan akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat, menurut pernyataan seorang pejabat tinggi AS, Rabu (21/1/2026) waktu setempat, sebuah langkah yang menggambarkan perubahan besar dalam hubungan antara Washington dan Caracas setelah gejolak politik dan militer terbaru di negeri kaya minyak tersebut.
Rodríguez diproyeksikan menjadi kepala negara Venezuela pertama yang menjabat yang berkunjung ke AS dalam lebih dari 25 tahun, tidak termasuk kunjungan presiden negara itu ke New York dalam rangka sidang PBB.
Ia mengatakan bahwa setiap upaya berdialog dengan Amerika Serikat dilakukan tanpa rasa takut”demi menghadapi perbedaan serta tantangan bersama melalui jalur diplomasi. “Kami sedang menjalani proses dialog, bekerja sama dengan AS, dan menyelesaikannya melalui diplomasi,” ujarnya menegaskan.
Undangan kunjungan itu merefleksikan perubahan mencolok dalam hubungan kedua negara setelah pasukan komando Delta Force AS melakukan operasi di Caracas, menangkap Presiden Nicolas Maduro, dan membawanya ke penjara di Amerika Serikat atas tuduhan perdagangan narkoba, peristiwa yang mengguncang tatanan politik Venezuela dan hubungan internasionalnya.
Rodríguez sendiri sebelumnya adalah wakil presiden dan tokoh senior dalam pemerintahan otoriter yang dikenal anti-Amerika, sebelum kemudian menjadi presiden sementara setelah peristiwa politik besar tersebut. Meskipun demikian, ia masih menjadi sasaran sanksi Amerika Serikat, termasuk pembekuan aset, sehingga keputusannya untuk duduk bersama Washington dalam dialog diplomatik menjadi sorotan.
Selain itu, keterlibatan Amerika Serikat dalam sektor energi Venezuela semakin nyata. Pemerintahan Rodríguez telah mengizinkan AS menjadi perantara penjualan minyak Venezuela, sekaligus memfasilitasi investasi asing dan pembebasan puluhan tahanan politik, langkah yang mencerminkan perubahan pragmatis dalam kebijakan luar negeri Caracas.
Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa kunjungan tersebut akan segera terjadi, namun tanggal dan agenda resmi masih belum ditetapkan.
Kunjungan bilateral semacam ini terakhir kali terjadi pada era sebelum Hugo Chávez berkuasa pada 1990-an, ketika hubungan Venezuela dengan Washington berada pada fase berbeda. Sejak saat itu, kebijakan luar negeri Venezuela kerap bersikap konfrontatif terhadap Amerika Serikat, bahkan menjalin hubungan dekat dengan negara-negara seperti Tiongkok, Kuba, Iran, dan Rusia.
Jika kunjungan ke Amerika Serikat benar-benar terjadi, hal ini berpotensi menimbulkan ketegangan politik di internal pemerintahan Venezuela, di mana sejumlah figur garis keras masih mencurigai apa yang mereka pandang sebagai dominasi hemisferik oleh Washington. Tokoh berpengaruh seperti Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello dan Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López tetap menjadi pilar penting dalam struktur kekuasaan negara itu, dan dukungan mereka kepada Rodríguez diyakini tidak sepenuhnya pasti.
Sejauh ini, Presiden Donald Trump tampak memilih untuk mempertahankan Rodríguez dan struktur pemerintahan yang ada selama Amerika Serikat mendapatkan akses terhadap minyak Venezuela, yang memiliki cadangan terbukti terbesar di dunia. Trump juga beberapa waktu lalu menjamu pemimpin oposisi Venezuela yang diasingkan, María Corina Machado, di Gedung Putih, dan menyatakan ia “akan senang” melihat oposisi terlibat dalam proses transisi politik.
Para analis menilai bahwa pendekatan Trump yang lebih pragmatis, yakni mendukung dialog dan kerja sama terbatas ketimbang perubahan rezim besar-besaran, mungkin didorong oleh keengganan mengulangi pengalaman rumit seperti setelah penggulingan Saddam Hussein di Irak. Seorang ahli politik di Caracas menyatakan bahwa intervensi semacam itu “selalu berakhir buruk.”
Namun, kebijakan ini juga menuai kritik dari para aktivis pro-demokrasi yang menuntut agar semua tahanan politik dibebaskan, diberikan amnesti, dan digelar pemilihan umum baru di Venezuela agar rakyat benar-benar menentukan nasib politiknya tanpa tekanan luar.