Delcy Rodriguez saat berbicara di Caracas, Venezuela, Jumat, 23 Agustus 2024. (Foto: AP).
VENEZUELA, (ERAKINI) - Delcy Rodriguez mendadak berada di pusat pusaran politik Venezuela setelah penangkapan Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS). Pengangkatannya sebagai presiden sementaraVenezuela menempatkannya pada posisi yang sangat rumit: di satu sisi menghadapi gejolak domestik dan loyalitas Chavismo, di sisi lain berada di bawah tekanan keras Washington.
ProfilDelcy Rodriguez
Julukan ‘harimau betina’ yang pernah disematkan Nicolas Maduro pada Delcy Rodriguez kini terasa relevan. Perempuan berusia 56 tahun ini berevolusi dari seorang birokrat pemerintahan menjadi salah satu figur paling kuat dalam lingkaran kekuasaan Venezuela, hingga akhirnya dipercaya memimpin negara dalam situasi krisis.
Pelantikannya sebagai presiden sementara menandai babak baru dalam perjalanan Chavismo, gerakan sosialis yang dibangun oleh Hugo Chavez dan dilanjutkan oleh Maduro. Namun, latar belakang Rodriguez menunjukkan bahwa pengaruh ideologi kiri dalam hidupnya telah tertanam jauh sebelum ia masuk Istana Miraflores.
Kenaikan Delcy Rodriguez tidak bisa dilepaskan dari sejarah keluarganya. Ayahnya, JoseAntonio Rodriguez, merupakan aktivis mahasiswa radikal dan tokoh penting dalam berbagai gerakan bersenjata sayap kiri di Venezuela. Ia dikenal sebagai salah satu pendiri Liga Sosialis, partai yang menolak sistem pemilu dan mendorong aksi perlawanan langsung terhadap negara.
Pada Februari 1976, José Antonio Rodríguez diduga terlibat dalam pengaturan penculikan William Niehous, eksekutif perusahaan AS Owens-Illinois yang dituduh sebagai agen CIA oleh kelompok gerilya. Lima bulan kemudian, ia ditangkap oleh aparat intelijen Venezuela dan meninggal dunia dalam tahanan, yang menurut keluarga akibat penyiksaan. Saat itu, Delcy masih berusia tujuh tahun.
Baik Delcy maupun kakaknya, Jorge Rodríguez, kerap menyebut kematian ayah mereka sebagai trauma mendalam yang membentuk pandangan politik dan sikap hidup mereka.
Kakak beradik Rodríguez menempuh pendidikan menengah di sekolah negeri di Caracas yang berafiliasi dengan Universitas Pusat Venezuela (UCV), kampus yang dikenal sebagai pusat pembibitan aktivis Marxis. Keduanya kemudian melanjutkan studi di universitas yang sama pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.
Delcy Rodríguez memilih jalur hukum, sementara Jorge Rodríguez menempuh pendidikan sebagai psikiater. Meski mengambil disiplin berbeda, keduanya akhirnya bertemu kembali dalam arena politik nasional seiring bangkitnya Chavismo.
Menurut biografi resmi pemerintah, Delcy melanjutkan pendidikan pascasarjana di luar negeri, meraih spesialisasi hukum perburuhan di Universitas Paris Nanterre dan kebijakan sosial di Birkbeck, Universitas London. Namun, hingga kini tidak tersedia dokumentasi publik yang secara jelas mengonfirmasi kualifikasi akademik tersebut.
Nama Delcy Rodríguez mulai muncul ke permukaan pada masa pemerintahan Hugo Chávez sejak 1999. Pada fase awal, ia lebih banyak mengisi jabatan teknokratis dan administratif dibanding peran politik terbuka.
Sejak 2003, ia bekerja di berbagai lembaga negara, termasuk Kantor Wakil Presiden serta Kementerian Energi dan Pertambangan, khususnya di bidang hubungan internasional. Titik balik kariernya terjadi setelah wafatnya Chávez pada 2013 dan menguatnya kendali Nicolás Maduro.
Sejak saat itu, Delcy Rodríguez bertransformasi menjadi aktor politik utama. Ia menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi (2013–2014), kemudian Menteri Luar Negeri (2014–2017), sebelum dipercaya memimpin Majelis Konstituen Nasional pada 2017.
Di bawah kepemimpinannya, majelis tersebut mengambil alih kewenangan lembaga negara lain dengan dalih menyusun konstitusi baru—proses yang pada akhirnya tak pernah rampung, namun memperkuat kekuasaan eksekutif.
Pada 2018, posisi ketua majelis diserahkan kepada Diosdado Cabello, tokoh kuat lain dalam struktur kekuasaan Venezuela. Di tahun yang sama, Maduro menunjuk Delcy Rodríguez sebagai wakil presiden, memujinya sebagai sosok “berani, revolusioner, dan teruji dalam seribu pertempuran”.
Kini, Delcy Rodríguez berdiri di garis depan krisis nasional dan internasional Venezuela. Dari seorang anak aktivis kiri yang kehilangan ayahnya secara tragis, ia menjelma menjadi figur kunci yang menentukan arah negara di tengah tekanan geopolitik global.
Masa kepemimpinannya sebagai presiden sementara akan menjadi ujian terbesar, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi kelangsungan Chavismo dan masa depan Venezuela di tengah konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.