Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Turki Tayyip Erdogan di Kota New York, AS. (Foto: Reuters).
ISTANBUL, (ERAKINI) – Presiden TurkiRecep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa Venezuela tidak boleh dibiarkan terperosok ke dalam kondisi kacau dan tidak stabil. Pernyataan tersebut ia sampaikan langsung kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam percakapan via sambungan telepon, menyusul aksi militer yang berujung pada tumbangnya pemerintahan Nicolas Maduro.
Melansir Arab News, Erdogan mengungkapkan bahwa pembicaraannya dengan Trump membahas operasi Amerika Serikat di Venezuela, yang menyebabkan Maduro ditangkap di Caracas dan kemudian dibawa ke Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa tindakan yang melanggar kedaulatan suatu bangsa serta hukum internasional berpotensi memicu dampak serius bagi tatanan global.
Menurut Erdogan, setiap bentuk intervensi yang mengabaikan kehendak rakyat hanya akan melahirkan persoalan baru di tingkat internasional. Ia mengingatkan bahwa Venezuela harus dijauhkan dari situasi kekacauan dan ketidakpastian politik.
Peringatan tersebut disampaikan Erdogan kepada media Turki usai rapat kabinet. Ia menilai, ketika kekerasan lebih diutamakan daripada supremasi hukum, maka yang muncul adalah krisis berkepanjangan, instabilitas, dan konflik terbuka.
Aksi militer Amerika Serikat terjadi setelah berbulan-bulan ketegangan dan tekanan diplomatik. Pada Sabtu lalu, pasukan AS melancarkan serangan ke ibu kota Venezuela dan menjatuhkan pemerintahan Maduro, mengakhiri kekuasaannya yang telah berlangsung selama 12 tahun. Maduro sendiri telah menyatakan tidak bersalah atas tuduhan perdagangan narkoba saat menjalani sidang di pengadilan New York.
Erdogan menegaskan bahwa Turki berupaya mengambil sikap yang menguntungkan negaranya sekaligus rakyat Venezuela, yang disebutnya sebagai bangsa sahabat. Ia juga menyoroti hubungan baik antara Turki dan Maduro beserta rakyat Venezuela yang selama ini dinilai menunjukkan solidaritas terhadap Ankara.
Selain isu Venezuela, Erdogan kembali menyuarakan keyakinannya bahwa pemerintahan Trump akan membuka jalan bagi Turki untuk bergabung kembali dalam program jet tempur F-35. Menurutnya, pengeluaran Turki dari proyek tersebut merupakan tindakan yang tidak adil.
Seperti diketahui, Amerika Serikat mengeluarkan Turki dari program F-35 pada 2019 dan menjatuhkan sanksi akibat pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. Namun, sejak Trump kembali menjabat, hubungan kedua negara anggota NATO itu tampak mulai mencair dan berupaya meredakan ketegangan lama.
Dalam pernyataan tertulis yang dirilis oleh kantor kepresidenan Turki dan dikaitkan dengan wawancara bersama Bloomberg, Erdogan menegaskan bahwa kembalinya Turki ke program F-35 adalah langkah yang sangat penting dan mendesak.