MAKKAH, (ERAKINI) - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyiapkan makanan siap santap atau ready to eat (RTE) bagi jemaah haji Indonesia selama fase puncak ibadah haji 1447 H/2026. Skema tersebut dipilih karena dinilai lebih praktis didistribusikan di tengah kepadatan jutaan jemaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan layanan konsumsi menjadi salah satu fokus utama pemerintah selain transportasi dan akomodasi selama fase .
Menurut Maria, layanan konsumsi tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga stamina dan kesehatan jemaah selama menjalani rangkaian ibadah yang padat dan menguras tenaga.
"Fase Armuzna merupakan periode yang sangat padat dan kompleks. Distribusi makanan dalam jumlah besar pada waktu bersamaan membutuhkan koordinasi lintas sektor, pengaturan logistik yang presisi, dan kesiapan transportasi yang optimal," ujar Maria dalam konferensi pers pada Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah memilih makanan siap santap sebagai solusi layanan konsumsi sejak menjelang, saat, hingga setelah puncak haji berlangsung.
Menurut Maria, terdapat empat pertimbangan utama di balik penggunaan makanan siap santap bagi jemaah haji Indonesia. Pertama, mempercepat distribusi makanan ke hotel-hotel jemaah. Kedua, memudahkan konsumsi di tengah tingginya mobilitas jemaah selama Armuzna.
Selain itu, makanan siap santap dinilai memiliki daya tahan lebih panjang di tengah cuaca panas Arab Saudi. Pemerintah juga memastikan makanan tetap memenuhi standar gizi, kebersihan, dan keamanan pangan.
"Teknologi pengolahan makanan yang digunakan memungkinkan makanan tetap higienis dan aman dikonsumsi dalam jangka waktu lebih panjang tanpa mengurangi kualitasnya," katanya.
Kemenhaj memastikan menu makanan siap santap tetap disusun dengan cita rasa Nusantara agar sesuai dengan selera jemaah Indonesia. Kehadiran menu khas Indonesia diharapkan dapat membantu mengurangi rasa rindu jemaah terhadap makanan kampung halaman selama berada di Tanah Suci.
Selama fase Armuzna, jemaah haji Indonesia akan menerima total 15 porsi makanan bercita rasa Nusantara yang disediakan oleh syarikah.
Sebagai informasi, syarikah merupakan perusahaan penyelenggara layanan haji di Arab Saudi, yakni Rakeen Mashariq dan Albait Guest. Pada fase puncak haji, hanya pihak syarikah yang diperkenankan beroperasi di lokasi Armuzna, termasuk dalam distribusi konsumsi jemaah.
Selain itu, pemerintah menyiapkan enam porsi makanan siap santap tambahan untuk fase pra dan pasca Armuzna. Paket makanan tersebut akan dibagikan pada 7, 8, dan 13 Dzulhijjah 1447 H atau bertepatan dengan 24, 25, dan 30 Mei 2026.
Maria mengatakan seluruh distribusi makanan siap santap ditargetkan sudah terkirim ke hotel-hotel jemaah Indonesia pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau 23 Mei 2026, sebelum pergerakan jemaah menuju Arafah dimulai.
"Kami memahami kualitas konsumsi sangat memengaruhi kondisi fisik jemaah. Karena itu pengawasan dilakukan ketat mulai dari produksi, pengemasan, hingga distribusi," ujarnya.