Wali Kota Terpilih New York City, Zohran Mamdani, berpidato di Urban League Empowerment Center di New York City. (Foto: New York Post).
NEW YORK, (ERAKINI) - Wali KotaNew York terpilih Zohran Mamdani kini berada di persimpangan penting dalam sejarah kota yang tak pernah tidur. Berkat hasil pemungutan suara yang didukung oleh pemerintahan Eric Adams, Mamdani akan mewarisi kewenangan baru yang sangat luas untuk mempercepat pembangunan perumahan di City, namun pertanyaan besar kini menggantung di udara: akankah ia benar-benar memanfaatkannya?
Melansir New York Post, langkah kebijakan yang digagas Adams ini bertujuan memangkas rantai birokrasi yang selama ini memperlambat proyek perumahan baru di kota megapolitan itu. Reformasi tersebut memberi wali kota kekuasaan lebih besar untuk mempercepat izin pembangunan dan mendorong proyek-proyek hunian terjangkau di berbagai distrik.
Namun, sejauh ini, Mamdani masih tak memberikan penjelasan soal bagaimana ia akan menggunakan kekuatan barunya itu. Padahal, selama masa kampanye, politisi berhaluan sosialis ini menjanjikan pembangunan 200.000 unit rumah terjangkau yang dikerjakan oleh serikat pekerja, serta menyebut dirinya sebagai bagian dari gerakan YIMBY atau ‘Yes In My Backyard’, simbol dari kebijakan pro-perumahan progresif.
“Langkah ini hanya akan berdampak besar jika wali kota berikutnya cukup berani memanfaatkannya,” ujar Alex Armlovich, analis kebijakan perumahan di Niskanen Center. “Jika Mamdani hanya duduk diam, semua perubahan ini akan sia-sia.”
Kendati begitu, sikap diam Mamdani justru mencolok, terutama ketika ia menolak berkomentar tentang inisiatif rezonasi pro-perumahan ‘City of Yes’ yang menjadi kebanggaan Adams. Bahkan setelah Dewan Kota menyetujui proyek pembangunan 15.000 rumah baru di Long Island City, Mamdani tetap tak mengeluarkan pernyataan apa pun.
Menurut Adolfo Carrion, Wakil Wali Kota Adams untuk bidang perumahan, Mamdani kini sebenarnya memiliki “fondasi yang kokoh” untuk melanjutkan agenda reformasi tersebut. Ia menyebut masih ada sekitar 50.000 unit hunian dalam tahap perencanaan, tersebar di Midtown South, East Bronx, Jamaica, Brooklyn, dan Long Island City.
“Kami sudah menyiapkan jalan bagi wali kota berikutnya,” kata Carrion dalam konferensi pers. “Jika ia mau bergerak cepat, dia bisa mencatatkan sejarah baru dalam menyediakan rumah bagi warga New York.”
Di hari yang sama, Mamdani justru hadir di Harlem, dalam peresmian Pusat Pemberdayaan Liga Perkotaan Nasional, proyek sosial besar yang meliputi 170 unit perumahan terjangkau, museum, serta gerai ritel seperti Trader Joe’s dan Target. Dalam pidatonya, ia menyinggung pentingnya keadilan sosial dan ekonomi berbasis komunitas kulit hitam.
“Inilah wujud nyata dari cita-cita yang sering dilupakan. DEI (Diversity, Equity, Inclusion) bukanlah kata kotor, tetapi semangat yang merepresentasikan kebanggaan dan keberanian warga kota ini,” ujar Mamdani.
Meski penuh janji dan simbolisme, tim Mamdani belum memberikan tanggapan resmi terkait strategi atau arah kebijakan yang akan diambil dengan kewenangan baru tersebut.
Kini, publik New York menanti: Apakah Zohran Mamdani akan menjadi pemimpin progresif yang menepati janjinya membangun kota untuk semua, atau justru terjebak dalam retorika tanpa realisasi seperti banyak pendahulunya?
Dengan kuasa di tangannya dan ekspektasi publik di pundaknya, masa depan perumahan New York kini bergantung pada satu keputusan: berani bertindak atau membiarkan kesempatan emas itu lewat begitu saja.