Rama Duwaji berdiri di sebelah Zohran Mamdani
setelah suaminya terpilih menjadi Wali Kota New York City, AS, Selasa malam. Foto: The New York Times
NEW YORK, (ERAKINI) – Di usia 28 tahun, Rama Duwaji akan menjadi ibu negara termuda yang pernah dimiliki Kota New York, Amerika Serikat (AS). Ia kini mendadak menjadi sorotan dunia setelah suaminya, Zohran Mamdani, memenangkan pemilihan Wali Kota New York.
Dalam pidato kemenangannya, wali kota terpilih itu memberikan penghormatan khusus kepada istrinya yang berdiri di sisinya. “Dan kepada istriku yang luar biasa, Rama, hayati,” katanya, menggunakan kata Arab yang berarti hidupku, dikutip dari , Kamis (6/11/2025). “Tak ada seorang pun yang lebih ingin aku miliki di sisiku saat ini, dan di setiap saat,” lanjutnya.
Duwaji adalah seorang seniman yang berbasis di New York dengan akar keturunan Suriah, yang karya-karyanya sering mengeksplorasi tema-tema Timur Tengah. Karyanya telah dimuat di BBC News, The New York Times, The Washington Post, Vice, serta museum Tate Modern di London.
“Rama bukan hanya istriku; dia adalah seniman luar biasa yang pantas dikenal atas karyanya sendiri,” tulis Mamdani dalam unggahan pada 12 Mei, mengumumkan bahwa mereka telah menikah tiga bulan sebelumnya. “Omg, dia nyata,” canda Duwaji dalam kolom komentar unggahan itu.
Pasangan ini bertemu melalui aplikasi kencan Hinge. “Jadi masih ada harapan bagi para pengguna aplikasi kencan,” kata Mamdani dalam wawancara dengan The Bulwark.
Pada awal kampanye suaminya, Duwaji jarang terlihat, membuat lawan politik menuduh anggota majelis negara bagian berusia 34 tahun itu “menyembunyikan” istrinya.
Ketidakhadirannya cukup mencolok, mengingat kandidat politik di AS biasanya menampilkan pasangan mereka secara terbuka untuk menonjolkan nilai-nilai keluarga.
Mamdani menanggapi kritik tersebut dalam unggahan bulan Mei yang juga menampilkan serangkaian foto pernikahan mereka di kantor City Clerk Kota New York. “Kalau kamu melihat Twitter hari ini atau kapan pun, kamu tahu betapa kejamnya dunia politik,” tulisnya.
“Biasanya aku biarkan saja, entah itu ancaman pembunuhan atau seruan agar aku dideportasi. Tapi ini berbeda kalau menyangkut orang yang kamu cintai… Kamu boleh mengkritik pandanganku, tapi jangan keluargaku.”
Meski memilih menjauh dari sorotan publik ketika pamor suaminya meningkat, CNN melaporkan bahwa Duwaji justru menjadi salah satu penggerak utama di balik layar.
Ia termasuk orang yang merancang identitas merek kampanye Mamdani, termasuk ikonografi tegas serta jenis huruf yang digunakan dalam materi kampanye berwarna kuning, oranye, dan biru.
Duwaji lahir di Houston, Texas, lalu pindah ke Dubai saat berusia sembilan tahun sebelum sempat bersekolah di Qatar. Menurut media berbahasa Arab, orang tuanya adalah Muslim Suriah asal Damaskus.
Meski jarang tampil di depan kamera, beberapa teman Duwaji memujinya dalam wawancara di tengah spekulasi mengenai perannya di pemerintahan Mamdani. “Dia adalah Princess Diana masa kini,” ujar temannya, Hasnain Bhatti, kepada The New York Times bulan lalu.
Laporan New York Post menyebut, Duwaji merasa antusias sekaligus kewalahan dengan meningkatnya perhatian publik.
Duwaji merupakan lulusan Virginia Commonwealth University. Ia kemudian meraih gelar magister di bidang ilustrasi dari School of Visual Arts di New York City.
Sebagian besar karyanya berwarna hitam putih dan menggambarkan kehidupan di dunia Arab. Juru bicara kampanye Mamdani mengatakan kepada New York Times bahwa Duwaji lahir di Texas dan berasal dari etnis Suriah.
Pada tahun 2022, karya-karyanya tampil dalam dokumenter BBC World Service berjudul “Who Killed My Grandfather”, yang menyelidiki pembunuhan seorang politisi Yaman pada tahun 1974.
Seniman yang kini menetap di Brooklyn itu menghabiskan sebagian besar masa pandemi COVID-19 di Dubai, tempat keluarganya tinggal.