Search

AS Klaim Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei Alami Luka Serius usai Serangan Terbaru

WASHINGTON, (ERAKINI) - Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah muncul pernyataan dari pejabat tinggi Amerika Serikat terkait kondisi pemimpin baru Iran. Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dilaporkan mengalami luka serius yang berpotensi menimbulkan cacat fisik.

Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam konferensi pers yang berlangsung di Washington pada Jumat (13/3/2026). Ia juga mengungkapkan bahwa pada hari yang sama Amerika Serikat melancarkan jumlah serangan terbesar sejauh ini terhadap berbagai target yang terkait dengan Iran.

Dalam keterangannya, Hegseth menjelaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap sasaran-sasaran Iran terus meningkat. Ia menyebut hari Jumat ()13/3/2026 sebagai hari dengan intensitas serangan tertinggi sejak konflik terbaru antara kedua negara memanas.

Selain itu, pemerintah AS menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional, khususnya di kawasan Selat Hormuz yang merupakan salah satu rute energi paling strategis di dunia. Menurutnya, Washington tidak akan membiarkan wilayah tersebut menjadi ajang perebutan kendali yang dapat mengganggu arus perdagangan global.

Hegseth juga mengungkapkan bahwa Komando Pusat Amerika Serikat atau United States Central Command (CENTCOM) telah menunjuk seorang pejabat dari luar struktur komando tersebut untuk memimpin penyelidikan independen terkait serangan yang dilaporkan mengenai sebuah sekolah di Iran. Langkah ini disebut sebagai upaya memastikan proses investigasi berjalan objektif.

Dalam konferensi pers itu, Hegseth menegaskan bahwa keputusan mengenai durasi dan arah operasi Amerika Serikat terhadap Iran berada di tangan Presiden AS, Donald Trump. Ia menyebut Washington memiliki berbagai opsi strategis untuk menghadapi isu program nuklir Iran.

Meski demikian, ia juga menyatakan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti kuat bahwa Iran telah menempatkan ranjau laut di kawasan Selat Hormuz, sebuah tuduhan yang sebelumnya sempat menjadi perhatian komunitas internasional.

Hegseth menambahkan bahwa Amerika Serikat tetap menjalin kemitraan strategis dengan Israel dalam menghadapi dinamika keamanan di kawasan. Namun, ia menegaskan bahwa setiap langkah militer yang diambil Washington tetap berlandaskan kepentingan dan tujuan nasional Amerika Serikat sendiri.

Perkembangan ini semakin menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah kekhawatiran global terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.