Tuntut Perlindungan Pers, Jurnalis di Gaza Memprotes Pembunuhan Rekan Mereka oleh Israel
Akhmad Baihaqi Arsyad







Sebelumnya, Komite Perlindungan Jurnalis yang berbasis di New York menyampaikan bahwa sejak perang dimulai di Gaza, 189 jurnalis Palestina telah tewas.
Mereka terdiri dari pria dan wanita, pekerja lepas dan staf, veteran dengan pengalaman bertahun-tahun di lapangan, dan reporter muda yang baru pertama kali bertugas.
Beberapa tewas bersama keluarga mereka di rumah, yang lain berada di kendaraan bertanda ‘PRESS’, atau di tenda-tenda dekat rumah sakit, atau sedang meliput kekerasan. Banyak yang mengalami kondisi yang sama dengan yang mereka liput — kelaparan, pengungsian, dan kesedihan.
Israel menuduh beberapa jurnalis yang tewas terlibat dengan kelompok militan, termasuk Hamas dan Jihad Islam — tuduhan yang dianggap tidak berdasar oleh para jurnalis dan media mereka. Militer Israel tidak menanggapi permintaan Associated Press untuk berkomentar mengenai data CPJ.
Angka dan metodologi mungkin berbeda di antara kelompok yang melacak kematian jurnalis. CPJ mengatakan pihaknya "menyelidiki dan memverifikasi secara independen keadaan di balik setiap kematian," termasuk untuk memverifikasi tidak adanya keterlibatan jurnalis dalam kegiatan militan.
Juru bicara kantor hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Thameen Al--Kheetan menyebut bahwa banyaknya pekerja media yang tewas dalam perang Gaza menimbulkan banyak pertanyaan tentang penargetan jurnalis.
Hal itu disampaikan pada hari Selasa (26/8/2025) dan menegaskan bahwa Israel tidak hanya harus menyelidiki dugaan pembunuhan di luar hukum di Gaza seperti serangan rumah sakit yang menewaskan 20 orang, termasuk jurnalis, sehari sebelumnya, tetapi juga memastikan penyelidikan tersebut membuahkan hasil. "Perlu ada keadilan," kata Thameen Al-Kheetan, kepada para wartawan di Jenewa.
