Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, Perdana Menteri Qatar sekaligus Menteri Luar Negeri, berpidato di hadapan para delegasi dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 11 September 2025. (Foto: Reuters)
NEW YORK, (ERAKINI) – Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, menyuarakan kecaman keras atas serangan udara Israel yang menargetkan kompleks diplomatik di Doha, yang mengakibatkan korban jiwa, termasuk seorang petugas keamanan Qatar. Pernyataan ini disampaikan dalam Sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (11/9/2025), yang digelar secara darurat atas permintaan beberapa negara, yakni Aljazair, Somalia, dan Pakistan.
Dalam pidatonya, Sheikh Mohammed mengecam serangan tersebut sebagai tindakan kriminal dan pelanggaran serius terhadap kedaulatan Qatar. Ia mengingatkan bahwa aksi itu dapat menggagalkan upaya gencatan senjata dan proses perdamaian yang tengah berlangsung di Gaza.
Serangan pada 9 September itu menghantam kompleks perumahan di Doha yang ditempati anggota biro politik Hamas beserta keluarga mereka. Lokasi tersebut diketahui secara luas oleh diplomat, wartawan, dan mediator yang terlibat dalam proses negosiasi.
Perdana Menteri Qatar menegaskan bahwa rudal yang menghantam kompleks tersebut bukanlah insiden yang tidak disengaja. Saat itu, delegasi Hamas tengah mengadakan pertemuan untuk membahas proposal terbaru gencatan senjata dari Amerika Serikat. “Ini bukan kecelakaan. Serangan ini sengaja dilakukan untuk merusak proses diplomasi, memperpanjang penderitaan, serta membungkam suara-suara yang mencari solusi damai,” tegasnya kepada anggota Dewan Keamanan PBB.
Rosemary DiCarlo, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian, menyebut tindakan Israel itu sebagai eskalasi berbahaya yang melanggar integritas wilayah Qatar. “Serangan ini berpotensi membuka babak baru yang berbahaya dalam konflik yang sudah menghancurkan ini. Setiap tindakan yang melemahkan upaya mediasi juga mengikis kepercayaan terhadap mekanisme penyelesaian konflik yang ada,” ujarnya.
Israel mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan operasi ini sebagai tindakan independen yang menjadi respons atas serangan Hamas mematikan di Yerusalem sehari sebelumnya. Hamas mengonfirmasi bahwa putra kepala negosiatornya, Khalil al-Hayya, menjadi salah satu korban meninggal, meskipun para pemimpin senior lainnya selamat.
Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk PBB, Barbara Woodward, mengutuk serangan itu sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan Qatar dan memperingatkan risiko eskalasi konflik di wilayah tersebut. Ia memuji kepemimpinan Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dalam memperjuangkan dialog dan perdamaian, serta menegaskan kembali bahwa Hamas harus membebaskan semua sandera, menyetujui gencatan senjata, dan melucuti senjata mereka.
Namun, Woodward juga mengkritik operasi militer Israel yang meningkat di Kota Gaza dan menyerukan agar bantuan kemanusiaan segera diperluas serta pembatasan dicabut. Ia menegaskan dukungan Inggris terhadap solusi dua negara sebagai jalan damai yang berkelanjutan.
Duta Besar Amerika Serikat, Dorothy Shea, menyatakan keprihatinan atas insiden ini dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dari Qatar. Ia memuji Qatar sebagai negara berdaulat yang berani mengambil peran mediasi, namun mengimbau agar insiden tersebut tidak dipakai untuk meragukan komitmen Israel dalam memulangkan sandera. Presiden AS Donald Trump, yang berbicara dengan Netanyahu dan Emir Qatar pasca-serangan, optimis insiden ini dapat menjadi titik awal perdamaian. AS tetap berkomitmen mengamankan gencatan senjata, memfasilitasi bantuan kemanusiaan, dan mendesak Hamas melucuti senjata serta membebaskan sandera.
Di sisi lain, Perdana Menteri Qatar menyatakan bahwa serangan tersebut mengungkapkan niat sesungguhnya dari pemimpin ekstremis Israel, yang justru merusak peluang perdamaian. Ia membandingkan kasus ini dengan negosiasi AS-Taliban di Doha, menyoroti bahwa Amerika Serikat tidak pernah menyerang negosiator Taliban, melainkan justru berhasil mengakhiri perang panjang melalui diplomasi tersebut.
“Mengapa Israel hendak menghancurkan peluang perdamaian yang sedang dinegosiasikan? Amerika Serikat tidak pernah menyerang negosiator Taliban di Doha, namun Israel menyerang delegasi Hamas secara langsung,” katanya.
Sheikh Mohammed menegaskan bahwa Qatar akan terus berkomitmen pada mediasi dan upaya kemanusiaan. Negara tersebut telah membantu pembebasan 148 sandera dan memfasilitasi koridor bantuan ke Gaza.
“Serangan ini bukan hanya serangan terhadap Qatar, tapi juga terhadap semua negara yang memperjuangkan perdamaian. Komunitas internasional sedang diuji. Jika PBB diam, itu sama saja melegitimasi kekerasan dan hukum rimba,” ujarnya.
Rosemary DiCarlo menambahkan bahwa solusi damai dan adil untuk Timur Tengah hanya bisa dicapai melalui diplomasi, bukan kekerasan.
Qatar berjanji akan melanjutkan kerja sama dengan Mesir dan Amerika Serikat guna mencapai gencatan senjata serta pembebasan sandera. “Kami menyerukan perdamaian, bukan perang. Namun kami tidak akan mentolerir serangan terhadap kedaulatan kami dan berhak membela diri sesuai hukum internasional,” tegas Sheikh Mohammed.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, secara langsung menanggapi pernyataan Sheikh Mohammed dengan mengatakan: “Sejarah tidak akan mengampuni para pendukung teroris. Qatar harus mengutuk, mengusir, dan membawa Hamas ke pengadilan. Jika tidak, Israel akan melakukannya.”
Danon menambahkan peringatan simbolis, mengingatkan dunia pada peristiwa serangan teroris 11 September di Amerika Serikat. “Ketika Osama bin Laden dibunuh di Pakistan, dunia tidak bertanya mengapa ia diserang di tanah asing, melainkan mengapa ia dulu diberi perlindungan. Tidak akan ada kekebalan bagi teroris, termasuk Hamas,” pungkasnya.