Serangan Mengejutkan Israel ke Doha Picu Perang Meluas, Qatar Pastikan Siapkan Balasan
Thomas Pulungan







Serangan ini sontak memicu kecaman keras dari Qatar, PBB, dan sejumlah negara Arab. Qatar menyebutnya sebagai “serangan kriminal” yang mengancam keamanan warganya sekaligus mencoreng hukum internasional. Situasi di Doha pun berubah tegang, meski pemerintah memastikan kondisi tetap terkendali.
Israel berdalih bahwa operasi itu merupakan serangan terarah terhadap tokoh-tokoh utama Hamas yang dianggap bertanggung jawab atas serangan 7 Oktober 2023. Namun, di balik klaim tersebut, langkah Israel di Qatar menandai eskalasi baru yang mengejutkan dunia, bahkan disebut melampaui batas dalam konflik yang sudah memanas di Gaza dan kawasan sekitarnya.
Serangan ini menjadi yang pertama dilakukan Israel di Qatar, negara yang berperan sebagai mediator utama dalam perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, sekaligus menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat terbesar di kawasan, yakni Pangkalan Udara Al Udeid.
Israel sendiri terus membombardir Gaza, Lebanon, Yaman, dan Suriah, serta melakukan serangan harian di Tepi Barat yang diduduki Palestina.
Seorang sumber Hamas mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan di Doha menargetkan tim negosiasi Hamas. Serangan itu terjadi ketika para negosiator tengah membahas proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan Amerika Serikat.
Charles Stratford dari Al Jazeera melaporkan, kawasan yang menjadi sasaran di Doha merupakan daerah permukiman besar dengan banyak kedutaan asing. “Ini adalah kawasan permukiman luas yang berisi banyak kedutaan besar asing. Banyak warga sipil tinggal di sini. Ada sebuah sekolah Lebanon tak jauh dari lokasi, dan dentuman ledakan terdengar hingga ke berbagai penjuru kota,” katanya.
Militer Israel mengklaim serangan ini dan menyebut menyasar pimpinan tertinggi organisasi Hamas. “Para pimpinan yang diserang telah memimpin aktivitas organisasi teroris ini selama bertahun-tahun, dan secara langsung bertanggung jawab atas pembantaian 7 Oktober serta perang melawan Negara Israel,” tulis militer Israel dalam pernyataannya.
Militer Israel juga menegaskan bahwa sebelum serangan dilakukan, langkah-langkah telah diambil untuk meminimalkan korban dari pihak yang tidak terlibat, termasuk penggunaan senjata presisi dan informasi intelijen tambahan.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut merilis pernyataan, menyebut aksi terhadap “petinggi teroris Hamas” tersebut merupakan operasi independen Israel sepenuhnya.
“Israel yang memulai, Israel yang melaksanakan, dan Israel yang bertanggung jawab penuh,” tegas pernyataan itu.
Dalam dua tahun terakhir, Israel telah membunuh banyak pemimpin militer dan politik Hamas, termasuk Yahya Sinwar, pemimpin politik tertinggi; Mohammed Deif, komandan militer sekaligus salah satu pendiri Brigade Qassam pada 1990-an; serta Ismail Haniyeh, kepala politik Hamas, yang dibunuh di ibu kota Iran, Teheran.
Qatar Murka
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengatakan negaranya mengutuk sekeras-kerasnya serangan tersebut yang menyasar bangunan perumahan tempat tinggal beberapa anggota biro politik Hamas.
“Serangan kriminal ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap semua hukum dan norma internasional, serta ancaman serius bagi keamanan dan keselamatan warga Qatar dan para penduduknya,” kata al-Ansari.
“Qatar menegaskan tidak akan mentolerir perilaku sembrono Israel yang terus mengacaukan keamanan regional, maupun tindakan apa pun yang mengancam keamanan dan kedaulatannya. Penyelidikan sedang berlangsung di tingkat tertinggi, dan rincian lebih lanjut akan diumumkan segera setelah tersedia,” tambahnya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga mengecam serangan Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Qatar.
Ia menegaskan Qatar telah memainkan peran positif dalam upaya mencapai gencatan senjata di Gaza dan pembebasan sandera yang ditahan Hamas. “Semua pihak harus bekerja menuju gencatan senjata permanen, bukan justru menghancurkannya,” ujar Guterres.
Negara-negara Teluk utama serta beberapa negara Arab lainnya juga telah mengeluarkan pernyataan keras mengecam serangan tersebut.
Israel sendiri sejak Oktober 2023 telah melancarkan agresi militer brutal ke Gaza yang menurut sejumlah kelompok HAM dikategorikan sebagai genosida. Hingga kini, lebih dari 64.000 orang tewas di Gaza.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) bahkan telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas kejahatan perang.
