Cahaya Cinta di Tanah Suci: Kebahagiaan Pasutri Tunaikan Ibadah Haji
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Malam belum sepenuhnya larut, tetapi Masjidil Haram justru semakin hidup. Langit Makkah yang bertabur bintang seakan bersaksi atas gelombang rindu yang membuncah dari hati ribuan jemaah.
Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, bertakbir, bertahmid—memuji asma Allah yang Maha Agung, berharap setiap doa yang mereka langitkan menembus Arsy dan diijabah oleh Sang Penguasa Semesta.
Di antara lautan manusia yang khusyuk bertawaf, bersujud, dan menadahkan tangan penuh harap, tampak sepasang suami istri berdiri di pelataran Ka'bah, tepat menghadap ke Multazam—tempat yang diyakini paling mustajab untuk berdoa.
Dengan tangan yang gemetar dan mata yang basah, mereka larut dalam haru, memohon kasih sayang Ilahi untuk kehidupan yang penuh berkah, dunia dan akhirat.
Setelah doa usai, keduanya menghampiri Petugas Haji Kemenag. Sang suami tersenyum, meski matanya masih menyimpan sisa-sisa tangis bahagia.
"Mbak, bisa minta tolong ambilkan gambar?" pintanya dengan suara lembut seperti dilansir dari situs Kemenag, Jumat (16/5/2025).
Petugas Haji mengambil ponsel yang diulurkan, dan di hadapan Ka'bah yang megah dan bercahaya, mereka berpose saling bergandengan tangan. Wajah mereka memancarkan syukur yang tak terucap, cinta yang mendalam bukan hanya pada satu sama lain, tetapi juga kepada Sang Khalik yang telah mempertemukan mereka di tempat paling suci ini.
Namanya Nur Hidayati, perempuan asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya bersama suami tercinta.
“Rasanya bahagia banget, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” ujarnya lirih, masih dengan mata berbinar.
Kebahagiaan itu begitu nyata—seperti cahaya yang memancar dari wajah keduanya, usai mereka bertawaf dalam dekapan malam suci.

















