Kapal USS Tripoli (LHA 7) melintasi Laut Arab sebagai kapal serbu amfibi yang mendukung blokade AS yang sedang berlangsung terhadap Iran. (Foto: X: @CENTCOM)
WASHINGTON, (ERAKINI) - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah militer AS melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas radar milik Teheran. Tindakan tersebut dilakukan setelah Iran mengirimkan empat drone tempur ke kawasan strategis Selat Hormuz pada Jumat (5/6/2026).
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa seluruh drone yang diluncurkan Iran berhasil dicegat dan ditembak jatuh sebelum mencapai sasaran. Menurut militer AS, pesawat nirawak tersebut dinilai sebagai ancaman langsung terhadap keamanan jalur pelayaran internasional yang melintasi kawasan tersebut.
Sebagai respons, pasukan Amerika menggempur beberapa instalasi radar pengawasan pantai Iran yang berada di wilayah Goruk dan Pulau Qeshm. CENTCOM menegaskan operasi itu dilakukan untuk mencegah kemungkinan serangan lanjutan yang dapat mengganggu stabilitas kawasan dan keselamatan lalu lintas maritim.
Sebelumnya, Iran mengklaim telah melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal perang Amerika di Teluk Oman hingga memaksa armada AS mundur menuju Samudra Hindia. Namun, tuduhan tersebut langsung dibantah oleh CENTCOM.
Militer Amerika menegaskan bahwa armadanya tetap menjalankan operasi secara bebas di perairan regional sembari mempertahankan blokade terhadap Iran. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas dominasi Teheran terhadap jalur vital distribusi minyak dan gas dunia yang berdampak pada lonjakan harga energi global.
Situasi ini menjadi episode terbaru dalam rangkaian aksi saling serang yang terus menguji ketahanan gencatan senjata yang selama ini berlangsung rapuh. Ketegangan semakin meningkat setelah awal pekan ini sebuah drone Iran menghantam terminal penumpang di bandara utama Kuwait. Serangan tersebut menewaskan satu orang, melukai puluhan lainnya, dan memaksa operasional bandara dihentikan sementara.
Meski kondisi keamanan kawasan kembali memanas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap menunjukkan optimisme. Dalam keterangannya kepada wartawan, Trump menyebut perkembangan hubungan dengan Iran masih bergerak ke arah yang cukup baik.
Saat menghadiri acara bersama para petani di Wisconsin, Trump mengatakan bahwa Amerika akan segera menyelesaikan persoalan Iran, baik melalui jalur diplomasi maupun pendekatan yang lebih keras jika diperlukan. Ia bahkan mengaitkan penyelesaian konflik tersebut dengan potensi penurunan harga pupuk dan stabilisasi ekonomi.
Namun di balik pernyataan optimistis itu, pemerintahan Trump menghadapi tantangan besar. Proses negosiasi dengan Iran yang bertujuan memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari serta membuka pembahasan baru terkait program nuklir Iran masih berjalan lambat.
Trump mengakui bahwa pembicaraan berlangsung rumit karena Iran dikenal memiliki karakter politik yang mandiri, kuat, dan penuh kebanggaan nasional. Menurutnya, Teheran kini harus mengambil sejumlah keputusan yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.
Dalam wawancara dengan NBC, Trump juga mengungkapkan bahwa Iran diperkirakan masih memiliki sekitar 21 hingga 22 persen cadangan rudalnya.
Di saat bersamaan, upaya diplomasi Amerika di kawasan juga menghadapi hambatan lain. Kesepakatan gencatan senjata terbaru antara Lebanon dan Israel yang dimediasi Washington belum sepenuhnya diterima oleh kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Pada Jumat, militer Israel kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan dan mengeluarkan perintah evakuasi bagi sembilan desa. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sembilan orang di enam lokasi berbeda.
Militer Israel juga melaporkan dua tentaranya terluka dalam bentrokan dengan kelompok bersenjata di Lebanon selatan, termasuk satu personel yang mengalami luka berat.
Konflik di Lebanon kini menjadi faktor penting yang berpotensi menghambat penyelesaian perang yang lebih luas. Iran sebelumnya menuntut agar setiap kesepakatan gencatan senjata permanen tidak hanya berlaku untuk konflik utama, tetapi juga mencakup wilayah Lebanon.
Selain mencegat drone di Selat Hormuz, pasukan Amerika juga melakukan operasi lain dengan menaiki sebuah kapal tanker minyak yang dikenai sanksi dan diduga memiliki keterkaitan dengan Iran di Samudra Hindia. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Washington untuk membatasi sumber pendapatan Teheran dari perdagangan minyak dan komoditas lainnya.
Pemerintah AS turut memperketat tekanan ekonomi melalui gelombang sanksi baru yang menyasar sejumlah individu, perusahaan, dan armada kapal tanker yang dituduh terlibat dalam aktivitas energi Iran.