Search

Drone Iran Pukul Mundur Kapal Induk AS Abraham Lincoln Menjauh dari Selat Hormuz

TEHERAN, (ERAKINI) – Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Iran menyatakan telah berhasil memukul mundur kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, menggunakan drone milik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kapal perang tersebut sempat mendekati perairan Iran di Laut Oman.

“Kapal induk Abraham Lincoln, yang sempat mendekat hingga sekitar 340 kilometer dari perbatasan maritim Iran di Laut Oman dalam upaya mengendalikan Selat Hormuz, telah dihantam drone milik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC),” ujar Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya dikutip dari media pemerintah Iran, Tasnim, Jumat (6/4/2026).

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa Kapal Induk USS Abraham Lincoln segera mundur dengan cepat bersama kapal-kapal perusaknya, dan kini berada ribuan kilometer dari kawasan tersebut.

Sebelumnya, IRGC juga mengumumkan bahwa USS Abraham Lincoln telah menjadi sasaran empat rudal balistik sebagai bagian dari Operasi True Promise 4.

"Serangan kuat dari angkatan bersenjata Republik Islam Iran terhadap musuh telah memasuki fase baru, dan wilayah darat serta laut akan menjadi tempat pemakaman bagi para agresor yang mereka sebut sebagai teroris," tulis Tasnim.

Diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. Iran telah memblokir Selat Hormuz dan mengancam "membakar" kapal-kapal yang mencoba melewati jalur itu. 

IRGC Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 AS
IRGC juga mengumumkan telah menembak jatuh sebuah jet tempur AS di wilayah barat daya Iran. Menurut IRGC, pesawat tempur serang multiguna dua kursi milik Amerika, F-15E Strike Eagle, berhasil menjadi sasaran sistem pertahanan udara baru milik Pasukan Dirgantara IRGC pada Rabu dini hari dan jatuh di sepanjang perbatasan barat daya Iran.

Amerika Serikat dan rezim Zionis telah melancarkan serangan militer mematikan terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari.

Serangan tersebut melibatkan serangan luas yang menargetkan area militer dan sipil, sehingga menyebabkan korban jiwa dan kerusakan besar.

Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan balasan keras dengan menghantam target-target AS dan Israel di wilayah pendudukan serta sejumlah negara kawasan menggunakan rentetan rudal dan drone.