Di dalam negeri, kepemimpinan Iran tetap memegang kendali penuh, meskipun ekonomi negara itu hancur berantakan dan sebagian besar infrastruktur rusak akibat bom Amerika dan Israel. (Foto: AP).
DUBAI, (ERAKINI)- Setelah hampir enam pekan konflik berkecamuk, perang yang melibatkan Iran akhirnya mereda, setidaknya untuk sementara. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan percaya diri menyatakan kemenangan.
Namun di balik klaim tersebut, muncul kenyataan pahit: Iran tetap berdiri, bahkan semakin mengukuhkan pengaruhnya di kawasan paling strategis dunia, khususnya di .
Gencatan senjata antara Washington dan Teheran tidak serta-merta menghapus ketegangan. Justru sebaliknya, situasi ini memperlihatkan realitas baru: rezim Iran yang keras tetap berkuasa, dengan kendali signifikan atas jalur energi global serta pengaruh yang menjangkau negara-negara Teluk.
Dampaknya meluas cepat. Ketidakstabilan ini mengguncang ekonomi global dan menyeret negara-negara tetangga, yang sangat bergantung pada stabilitas kawasan—ke dalam pusaran ketidakpastian.
Pakar Timur Tengah, Fawaz Gerges, menilai konflik ini sebagai kesalahan besar. Ia menyatakan, “Perang ini akan dikenang sebagai kesalahan perhitungan strategis Trump yang serius. Salah satu yang konsekuensinya membentuk kembali kawasan ini dengan cara yang tidak terduga.”
Selat Hormuz: Dari Jalur Internasional ke Instrumen Kekuasaan
Sebelum konflik, Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, diakui sebagai perairan internasional. Iran memang kerap mengawasi dan sesekali mengganggu pelayaran, tetapi belum pernah secara terbuka mengendalikan jalur tersebut.
Kini, situasinya berubah drastis. Iran tidak lagi sekadar mengawasi, tetapi mulai menentukan aturan main. Teheran bertindak layaknya ‘penjaga gerbang’ yang menetapkan syarat pelayaran, bahkan berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintas demi keamanan.
Meski dihantam serangan bertubi-tubi dari AS dan Israel, Iran menunjukkan daya tahan tinggi. Infrastruktur memang rusak dan ekonomi terpukul, tetapi kekuatan inti negara tetap utuh, bahkan dalam beberapa aspek justru menguat.
Pengaruh Iran meluas melalui jaringan sekutu di kawasan Hezbollah di Lebanon, Milisi Syiah di Irak dan Kelompok Houthi di Yaman yang menguasai jalur strategis Bab el-Mandeb. Di dalam negeri, pemerintahan tetap solid tanpa tanda-tanda runtuh, meskipun tekanan besar terus berlangsung.
Gerges mempertanyakan hasil perang tersebut dengan tajam: “Perubahan rezim di Teheran? Tidak. Penyerahan Republik Islam? Tidak. Pengendalian uranium? Tidak. Menghentikan dukungan Iran ke sekutu regionalnya? Tidak.”
Pemerintah AS tetap bersikukuh telah meraih keberhasilan militer. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut operasi tersebut sebagai kemenangan menentukan, dengan program rudal Iran disebut telah lumpuh. Namun fakta di lapangan menunjukkan Iran masih mampu meluncurkan rudal hingga menjelang gencatan senjata.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa prioritas utama adalah membuka kembali Selat Hormuz tanpa hambatan, meski tidak menutup kemungkinan adanya skema berbagi pendapatan tol dengan Iran di masa depan.
Kesepakatan penghentian konflik selama dua pekan membuka peluang dialog lanjutan. Namun banyak pihak menilai ini hanyalah jeda sementara. Ebtesam Al-Ketbi menggambarkannya secara gamblang: “Gencatan senjata ini bukanlah solusi; ini adalah ujian niat.”
Ia memperingatkan bahwa tanpa kesepakatan menyeluruh, yang mencakup isu nuklir, rudal, proksi, dan aturan di Hormuz, konflik hanya akan tertunda sebelum kembali meledak dengan skala lebih besar.Bagi negara-negara Teluk, Selat Hormuz adalah urat nadi ekonomi. Kehilangan akses bebas berarti ancaman serius bagi ekspor energi mereka. Analis Saudi Ali Shihabi menegaskan bahwa menyerahkan kendali efektif kepada Iran akan menjadi pukulan telak bagi AS. Ia juga memperingatkan dampak lanjutan berupa lonjakan harga energi global yang bisa merembet ke dinamika politik domestik Amerika.