Paus Leo XIV dan Patriark Ekumenis Bartholomew I, pemimpin spiritual umat Kristen Ortodoks Timur sedunia, meninggalkan tempat setelah kebaktian doksologi di Gereja Patriarkat Santo George, di Istanbul, Turki, pada 29 November 2025. (Foto: AP).
ISTANBUL, (ERAKINI) - Paus Leo terbang ke Lebanon pada Minggu (30/11/2025), membawa pesan damai ke negara yang terus dicekam kecemasan akibat gelombang serangan udara Israel. Perjalanan ini menjadi penutup dari lawatan internasional pertamanya sejak dilantik sebagai pemimpin Gereja Katolik, sebuah misi yang penuh beban moral di tengah perang yang berkobar di kawasan.
Sebagai paus pertama asal Amerika Serikat, Leo sebelumnya menghabiskan empat hari di Turki. Di sana ia memperingatkan bahwa masa depan umat manusia kini berada di tepi jurang, dihimpit konflik bersenjata dari Gaza hingga Ukraina. Ia juga mengecam keras kekerasan atas nama agama, menegaskan bahwa iman tidak boleh menjadi pembenaran untuk menghilangkan nyawa manusia.
Paus dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Hariri, Beirut, pukul 15.45 waktu setempat. Ia akan bertemu presiden dan perdana menteri Lebanon, sebelum menyampaikan pidato penting kepada para pemimpin nasional—pidato keduanya yang ditujukan kepada pemerintah asing sejak menjabat.
Negara dengan populasi Kristen terbesar di Timur Tengah itu ikut menanggung dampak konflik Gaza. Ketegangan antara Israel dan Hizbullah terus meningkat, membuat warga Lebanon hidup dalam kecemasan. Serangan Israel di wilayah selatan bahkan sudah menimbulkan kehancuran besar, memicu ketakutan akan eskalasi besar-besaran.
Lebanon yang tengah berjuang keluar dari krisis ekonomi berkepanjangan juga menampung lebih dari 1 juta pengungsi Palestina dan Suriah. Para pemimpin negara khawatir Israel dapat memperluas serangannya kapan saja.
Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menyampaikan harapannya bahwa kedatangan Paus Leo dapat menekan Israel untuk menghentikan agresi dan membuka ruang bagi proses perdamaian.
Berbagai komunitas di Lebanon, dari kelompok Kristen, Muslim, hingga Druze, menyambut baik kedatangan Paus. Ulama Druze, Sheikh Sami Abi Al-Muna, menyebut kunjungan ini sebagai “secercah harapan” bagi bangsa yang “terluka dan lelah oleh perang.”
Leo, yang sebelumnya tidak begitu dikenal dunia internasional sebelum terpilih menjadi paus pada bulan Mei, menjalani tugas padat di Timur Tengah. Di Turki, ia mengunjungi Masjid Biru, melepas sepatu sebagai bentuk penghormatan, namun membatalkan rencana untuk salat di dalam masjid, yang kabarnya membuat beberapa pejabat Vatikan terkejut.
Di Lebanon, Paus berusia 70 tahun itu akan menjelajahi lima kota dari Minggu hingga Selasa. Ia tidak akan mengunjungi wilayah selatan Lebanon yang menjadi target serangan Israel, demi keamanan.
Agenda penting lainnya termasuk berdoa di lokasi tragedi ledakan kimia Beirut 2020, bencana yang menewaskan 200 orang dan meluluhlantakkan jantung ibu kota. Paus juga akan memimpin Misa akbar di tepi laut Beirut serta mengunjungi rumah sakit jiwa, salah satu fasilitas kesehatan mental terbesar di negara itu.
Para perawat dan pasien menantikan kehadirannya, berharap kunjungan Paus membawa pelipur lara di tengah suasana regional yang penuh ketakutan.
Kunjungan Leo menjadi momen simbolis, suara moral yang menuntut perdamaian di kawasan yang masih dirundung ketidakadilan, penderitaan, dan agresi bersenjata, terutama bagi rakyat Palestina yang terus mencari haknya untuk hidup bebas dan bermartabat.