Ilustrasi - Militer Israel menyergap Global Sumud Flotilla (GSF), pembawa relawan ke Gaza, ratusan aktivis ditangkap. (Foto: Instagram/globalsumudflotilla).
GAZA, (ERAKINI) – Upaya kemanusiaan terbesar melalui laut untuk menembus blokade ilegal Israel atas Gaza mendapat penghadangan brutal. Hampir seluruh kapal dalam Armada Sumud Global (Global Sumud Flotilla/GSF), yang mengangkut ratusan dari berbagai negara, telah dikuasai secara paksa oleh militer , memicu gelombang protes dari berbagai penjuru dunia.
Armada yang terdiri dari 44 kapal sipil dengan sekitar 500 aktivis kemanusiaan dicegat oleh pasukan Israel pada Rabu malam (2/10/2025). Para sukarelawan dilaporkan ditangkap, ditahan secara paksa, dan dibawa ke wilayah Israel tanpa persetujuan mereka.
Militer Israel mengonfirmasi lewat pernyataan di platform X bahwa hingga Kamis (2/10/2025) siang, “semua kapal kecuali satu telah disita.” Kapal yang tersisa, Marinette, disebut masih melanjutkan pelayarannya dan berada sekitar 80 mil laut dari Gaza, atau 10 mil laut dari titik penyergapan armada lainnya.
Salah satu sosok paling menonjol dalam armada ini adalah Greta Thunberg (22 tahun), aktivis iklim asal Swedia yang bergabung dalam misi sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Palestina. Dalam sebuah video yang dirilis sesaat setelah kapalnya diserbu, Thunberg menyatakan:
“Jika kalian menonton ini, berarti saya telah diculik oleh militer Israel. Kami menjalankan misi damai, non-kekerasan, dan sepenuhnya sesuai hukum internasional.”
Rekaman dari Kementerian Luar Negeri Israel menunjukkan Thunberg duduk di dek kapal, dikelilingi oleh tentara bersenjata, menggambarkan suasana mencekam dalam penguasaan kapal oleh aparat bersenjata.
Aksi penyergapan yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum maritim dan hak asasi manusia ini langsung memicu kecaman global. Aksi protes meletus di sejumlah kota besar seperti London, Paris, Berlin, Karachi, Buenos Aires, dan Mexico City. Serikat pekerja di Italia bahkan menyerukan pemogokan nasional sebagai bentuk solidaritas terhadap para aktivis yang ditahan.
Penyelenggara GSF mengungkapkan bahwa lebih dari 450 relawan kemanusiaan telah ditangkap. Sebagian besar dari mereka sempat dikumpulkan di atas kapal kargo besar, sebelum dibawa secara paksa ke pelabuhan Ashdod di Israel.
Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa semua orang yang ditahan kini berada “dalam kondisi aman”, namun menolak menjelaskan dasar hukum penahanan mereka.
Menurut Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, para aktivis internasional yang ditahan direncanakan akan dideportasi mulai Senin dan Selasa pekan depan, menggunakan penerbangan carter ke berbagai ibu kota Eropa.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel menyebut kapal terakhir yang tersisa masih dalam radar mereka, dan mengancam akan menghalangi dengan kekuatan penuh jika kapal tersebut tetap berlayar menuju Gaza. “Provokasi ini akan dihentikan,” tulis pernyataan resmi mereka, menyebut aksi kemanusiaan tersebut sebagai tindakan ‘masuk ke zona konflik aktif.’
Armada Sumud Global merupakan bagian dari inisiatif internasional untuk menantang blokade laut Israel atas Gaza yang telah diberlakukan selama lebih dari satu dekade. Blokade ini telah menyebabkan krisis kemanusiaan berkepanjangan dengan keterbatasan ekstrem terhadap akses makanan, obat-obatan, dan bantuan internasional.
Aksi penyitaan terhadap armada sipil ini bukan hanya pelanggaran terhadap hak navigasi internasional, tetapi juga merupakan indikasi nyata dari represi terhadap solidaritas global bagi rakyat Palestina.
Blokade Gaza telah dikutuk oleh banyak organisasi internasional sebagai bentuk hukuman kolektif ilegal. Penahanan relawan kemanusiaan, termasuk tokoh internasional seperti Greta Thunberg, menunjukkan bagaimana bantuan pun dianggap ancaman oleh rezim penjajah.