Warga Palestina berduka di samping jenazah seorang kerabat yang tewas dalam serangan Israel di Deir al-Balah, di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Jalur Gaza tengah pada 2 Oktober 2025. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) – Serangan udara tanpa henti yang dilancarkan militer Israel kembali memicu tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza. Sedikitnya 52 warga Palestina dilaporkan tewas pada Kamis (2/10/2025) dalam serangkaian yang menargetkan wilayah padat penduduk, termasuk seorang staf lembaga kemanusiaan internasional, Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontières/MSF).
Menurut laporan tim pertahanan sipil Gaza, yang beroperasi di bawah otoritas lokal, korban jiwa berasal dari berbagai wilayah: 10 orang di Kota Gaza, 14 di bagian tengah, dan 28 lainnya di wilayah selatan. Beberapa rumah sakit yang menerima korban mengonfirmasi bahwa sebagian besar tewas akibat serangan udara, drone bersenjata, dan tembakan artileri.
Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis mencatat hampir 30 kematian, termasuk 14 warga sipil yang menjadi korban saat sedang mengantre bantuan makanan di kawasan Al-Tina dan Morag—insiden yang menunjukkan bahwa seranganIsrael bahkan tidak menghindarkan warga yang sedang mencari makanan.
Sementara itu, Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah melaporkan menerima sembilan jenazah dari wilayah sekitarnya, menyusul rentetan serangan udara sejak dini hari.
Seorang jurnalis foto AFP menggambarkan suasana memilukan di rumah sakit, di mana jenazah dibungkus kain kafan putih, sementara keluarga korban menangis pilu di sisi mereka.
Di antara korban tewas terdapat Omar Al-Hayek (42 tahun), seorang tenaga medis dari Doctors Without Borders (MSF). Ia gugur dalam serangan yang menghantam kerumunan warga sipil di pusat kota Deir Al-Balah.
“Kami diberitahu bahwa beberapa anggota tim kami terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa,” ungkap Karin Huster, kepala misi MSF di Gaza. “Namun sesampainya di sana, kami mendapati salah satu rekan kami telah meninggal dunia, dan empat lainnya mengalami luka-luka.”
Ia menambahkan, “Situasi ini memilukan, tidak dapat diterima—apakah disengaja atau tidak. Cukup sudah penderitaan yang ditimpakan kepada warga dan para pekerja kemanusiaan di Gaza.”
Akar dari konflik ini bermula sejak serangan Hamas terhadap wilayah Israel pada 7 Oktober 2023, yang menurut data resmi menewaskan 1.219 orang, sebagian besar warga sipil. Sebagai balasan, militer Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran di Gaza yang hingga kini telah menyebabkan lebih dari 66.000 warga Palestina tewas, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Angka tersebut sebagian besar mencerminkan korban dari kalangan sipil, termasuk anak-anak, perempuan, serta tenaga medis dan relawan, dan telah dikonfirmasi sebagai data kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Agresi militer Israel di Gaza terus menuai kritik internasional atas serangan membabi buta yang menewaskan warga sipil dan melanggar prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional. Ketika wilayah yang sudah porak-poranda terus dibombardir, dan ketika relawan kemanusiaan pun tak luput dari ancaman maut, dunia dituntut untuk tidak lagi bungkam.