Warga Palestina berjalan di tengah bangunan yang hancur saat mereka pulang ke Jabalia setelah penarikan pasukan Israel. (Foto: Dawoud Abo Alkas/Anadolu)
JAKARTA, (ERAKINI) - Mohammed Adel (25), seorang warga Palestina akhirnya pada bulan Juni 2024 dapat membuka kembali kiosnya di Jabalia di atas puing-puing rumahnya yang diratakan oleh pesawat tempur Israel dalam hampir 3 minggu operasi militer.
"Sebulan lalu, saya biasa mendirikan kios di depan rumah, namun hari ini saya mendirikan kios di reruntuhannya,” kata pemuda itu kepada Xinhua yang dikutip Rabu (12/6/2024).
Ini terjadi setelah tentara Israel menarik diri dari kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara pada akhir Mei 2024 setelah operasi militer yang menyebabkan puluhan orang tewas dan kerusakan luas pada rumah, fasilitas, dan infrastruktur.
Sebelumnya, Pasukan Pertahanan Israel pada tanggal 31 Mei 2024 mengatakan bahwa selama misinya di Jabalia timur, mereka mengambil 7 jenazah sandera, melenyapkan ratusan "teroris" dan menghancurkan 10 km jaringan terowongan bawah tanah.
Tidak butuh waktu lama bagi Adel untuk mengembalikan kehidupannya ke jalur yang benar. Pasukan Israel “mungkin membunuh puluhan orang dan menghancurkan rumah kami, namun kami bersikeras untuk melanjutkan hidup kami dan membangun kembali rumah kami sesegera mungkin. Kami tidak akan pernah putus asa dalam hidup,” katanya.
Tak jauh dari tempat tinggal Adel, Sobhi Hassan, 50 tahun, memasang ayunan di sisa-sisa rumahnya yang hancur agar anak-anak bisa bersenang-senang. "Saya kembali untuk meletakkan ayunan kecil di reruntuhan rumah saya agar anak-anak dapat bermain dan meringankan apa yang mereka alami beberapa hari terakhir,” kata ayah 6 anak itu kepada Xinhua sambil berusaha keras untuk tersenyum pada wajahnya yang tampak sedih.
Faktanya, pria paruh baya ini mendapatkan sejumlah uang dari ayunan tersebut untuk membantu keluarganya tetap bertahan di tengah situasi mengerikan akibat perang. "Saat saya melihat anak-anak tertawa, saya merasa bahwa hidup ini layak untuk diperjuangkan meski kita sedang terperosok dalam perang,” kata pria tersebut.
Adel dan Hassan keduanya menyatakan harapan mereka bahwa perang akan berakhir dan kesepakatan gencatan senjata dapat dicapai di Gaza sesegera mungkin.
Adapun kamp Jabalia merupakan kamp pengungsi terbesar dari delapan kamp pengungsi di Gaza. Sejak awal perang Israel di Gaza, kamp Jabalia telah menyaksikan konfrontasi mematikan antara tentara Israel dan faksi bersenjata Palestina, yang dipimpin oleh Hamas yang berkuasa di Gaza.
Pasca operasi militer Israel terbaru, banyak sampah yang tertinggal, termasuk kotak amunisi kayu. Hal ini mendorong Samir Ahmed, seorang pria Palestina yang tinggal di Jabalia, untuk mengumpulkan dan menjualnya sebagai kayu bakar di pasar lokal.
"Kotak-kotak tersebut berisi puluhan bom yang membunuh rakyat kami, namun saya menggunakannya untuk membantu orang-orang menyiapkan makanan agar tetap hidup. Inilah perbedaan antara orang Israel dan kami.
Mereka (Israel, red) membawa kematian dan kehancuran sementara kami menyebarkan kehidupan dan harapan ke seluruh dunia. waktunya," kata pemuda itu kepada Xinhua.