Asap membubung setelah serangan udara Israel menghantam dan menghancurkan sejumlah bangunan serta menara tinggi di Kota Gaza, pada Minggu, 14 September 2025: Foto: Anadolu via Al Jazeera
JAKARTA, (ERAKINI) - Gaza kembali diguncang serangan udarabarbarIsrael. Sedikitnya 53 warga Palestina tewas, termasuk 35 orang di Kota Gaza, setelah tiga blok permukiman diratakan.
melaporkan, militer Israel menghancurkan Menara al-Kawthar di Distrik Remal, Gaza selatan, hanya dua jam setelah bangunan itu ditandai sebagai target. Kantor Media Pemerintah Gaza mengecam pemboman sistematis Israel terhadap menara, sekolah, rumah sakit, hingga lembaga sipil, yang dinilai bertujuan memusnahkan dan memaksa warga meninggalkan wilayah tersebut.
Meski Israel mengklaim menargetkan kelompok bersenjata, pernyataan resmi otoritas Gaza menegaskan serangan justru menyasar fasilitas sipil, termasuk masjid, pusat medis, tenda pengungsi, hingga kantor lembaga internasional kemanusiaan.
Gelombang pengungsi kini terus bergerak ke al-Mawasi, wilayah yang disebut Israel sebagai “zona aman”. Namun kawasan itu pun berulang kali diserang.
Para pengungsi menggambarkan kondisi memprihatinkan: kekurangan air bersih, kelaparan, dan minimnya fasilitas dasar. “Tidak ada tempat yang aman di Gaza, termasuk di zona kemanusiaan,” tulis UNICEF.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan dua kematian tambahan akibat malnutrisi dalam 24 jam terakhir. Total korban kelaparan kini mencapai 422 orang, termasuk 145 anak. Sejak PBB menetapkan adanya bencana kelaparan bulan lalu, 144 warga Palestina, 30 di antaranya anak-anak eninggal karena kekurangan pangan.
Kecaman Politik
Serangan Israel juga memicu ketegangan politik di kawasan, terutama setelah serangan di Qatar. Anggota biro politik Hamas, Izzat al-Rashq, menuduh PM Israel Benjamin Netanyahu berupaya memperluas perang demi ambisi “Israel Raya” dan melemahkan peran Qatar dalam mediasi.
Dalam pertemuan persiapan KTT Arab-Islam di Doha, para pemimpin membahas langkah balasan. Draf resolusi yang diperoleh Reuters menuding Israel melakukan “genosida, pembersihan etnis, kelaparan, pengepungan, dan kolonisasi”, serta memperingatkan ancaman terhadap perdamaian regional.
PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman kembali menyebut serangan Israel pada 9 September sebagai tindakan “barbar” dan menuntut respons tegas.
Sementara itu, Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit memperingatkan bahwa diamnya dunia internasional hanya membuat Israel semakin berani bertindak dengan impunitas. Ia menegaskan Israel harus diadili atas kejahatan perang.
Profesor hubungan internasional Universitas Qatar, Adnan Hayajneh, menilai situasi kawasan telah berubah drastis.
“AS harus sadar ada 2 miliar Muslim di dunia yang merasa terhina, dan ini baru permulaan. Serangan ke Qatar hanyalah bagian dari destabilisasi seluruh kawasan,” ujarnya.