DUBAI, (ERAKINI) - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian memuncak setelah Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke Israel serta sejumlah negara Teluk. Aksi ini terjadi menyusul tewasnya dua pejabat tinggi Iran dalam serangan yang diklaim dilakukan oleh Israel.
Dua Tokoh Kunci Iran Tewas
Iran mengonfirmasi kematian Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, serta Gholam Reza Soleimani, pimpinan pasukan Basij di bawah Garda Revolusi. Keduanya dikenal sebagai figur penting dalam struktur kekuasaan Iran, termasuk dalam penanganan protes besar yang mengguncang negara tersebut awal tahun ini.
Serangan ini disebut menjadi pukulan serius bagi kepemimpinan Iran, terutama setelah sebelumnya pemimpin tertinggi Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam konflik yang sama.
Sebagai respons, Iran meluncurkan gelombang rudal ke wilayah Israel. Sirene darurat berbunyi di berbagai kota, termasuk Tel Aviv, disertai ledakan yang mengguncang kawasan tersebut. Layanan darurat Israel melaporkan korban jiwa di wilayah Ramat Gan.
Tak hanya Israel, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Kuwait juga menjadi sasaran serangan drone dan rudal, meskipun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Ketegangan ini turut mengguncang pasar energi global. Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, menjadi titik krusial. Teheran menyatakan jalur tersebut tetap terbuka, namun dengan pembatasan bagi negara-negara tertentu. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Presiden Donald Trump bahkan meminta dukungan internasional untuk mengamankan jalur tersebut, namun belum mendapat respons signifikan dari sekutu.
Pemerintah Israel menegaskan bahwa serangan terhadap pejabat Iran bertujuan melemahkan rezim. Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut kedua tokoh tersebut telah “dilenyapkan”, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan langkah itu untuk membuka peluang perubahan di Iran.
Di sisi lain, konflik meluas hingga Lebanon, di mana kelompok Hizbullah yang didukung Iran terlibat bentrokan dengan militer Israel. Serangan di wilayah selatan Lebanon dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan gelombang pengungsian besar.
Badan IAEA mengungkap adanya laporan proyektil yang menghantam fasilitas nuklir di Bushehr, meski tidak menimbulkan kerusakan serius. Kepala IAEA, Rafael Mariano Grossi, menyerukan penahanan diri untuk mencegah risiko kecelakaan nuklir.
Sejauh ini, ribuan korban jiwa telah berjatuhan di berbagai pihak sejak konflik pecah, menandakan skala krisis yang semakin luas.
Konflik ini tidak hanya menjadi perang regional, tetapi berpotensi berkembang menjadi krisis global. Dengan keterlibatan banyak pihak dan dampak terhadap energi dunia, situasi masih sangat dinamis dan berisiko meningkat sewaktu-waktu.
Dunia kini menunggu, apakah eskalasi akan terus memburuk, atau ada jalan menuju deeskalasi sebelum segalanya terlambat.