Anggota keluarga Liri Albag, seorang sandera Israel yang ditawan oleh militan Palestina di Jalur Gaza selama serangan 7 Oktober, berdemonstrasi di Tel Aviv pada 4 Januari 2025, menyerukan tindakan untuk menjamin pembebasan sandera Israel di tengah perang yang sedang berlangsung di wilayah Palestina antara Israel dan Hamas. (Foto: AFP)
GAZA, (ERAKINI) – Usai pembicaraan tidak langsung mengenai gencatan senjata dan perjanjian pembebasan sandera telah dilanjutkan di Qatar, seorang pejabat pada hari Minggu (5/1/2025) mengatakan bahwa pihaknya siap membebaskan 34 dalam fase pertama dari potensial dengan .
“Hamas telah setuju untuk membebaskan 34 tahanan Israel dari daftar yang diberikan Israel sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan tahap pertama,” kata pejabat Hamas dikutip dari Arab News, Senin (6/1/2025).
Pejabat Hamas, yang meminta tidak disebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk membahas negosiasi yang sedang berlangsung dengan media, mengatakan pertukaran awal akan mencakup semua perempuan, anak-anak, orang lanjut usia dan tawanan sakit yang masih ditahan di Gaza.
Dia mengatakan beberapa orang mungkin tewas dan Hamas memerlukan waktu untuk mengetahui kondisi mereka.
Hingga komentar pejabat Hamas tersebut, belum ada informasi terkini mengenai perundingan yang akan dilanjutkan oleh kedua pihak yang bertikai di Qatar pada akhir pekan. Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Hamas belum memberikan daftar sandera yang akan dibebaskan berdasarkan perjanjian.
“Upaya sedang dilakukan untuk membebaskan para sandera, terutama delegasi Israel yang berangkat kemarin (Jumat) untuk bernegosiasi di Qatar” Menteri Pertahanan IsraelIsrael Katz mengatakan kepada kerabat seorang sandera pada hari Sabtu, menurut kantornya.
Mediator Qatar, Mesir dan Amerika Serikat telah mencoba selama berbulan-bulan untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang. Upaya terbaru ini dilakukan hanya beberapa hari sebelum Donald Trump menjabat sebagai presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2025.
Pembicaraan tersebut terjadi ketika Israel menggempur Jalur Gaza pada hari Minggu, menewaskan sedikitnya 23 orang menurut tim penyelamat, hampir 15 bulan setelah perang dimulai.
Sebelumnya, selama periode tersebut hanya ada satu gencatan senjata, yaitu jeda satu minggu pada bulan November 2023 yang membebaskan 80 sanderaIsrael bersama dengan 240 warga Palestina dari penjara Israel.
Selama serangan mereka pada tanggal 7 Oktober 2023 yang memulai perang Gaza, militan menyandera 251 sandera, 96 di antaranya masih berada di Gaza. Militer Israel mengatakan 34 di antaranya tewas.
Pada bulan Desember, Qatar menyatakan optimisme bahwa “momentum” akan kembali terjadi dalam perundingan setelah kemenangan Trump dalam pemilu. Namun Hamas dan Israel kemudian saling tuduh menerapkan kondisi dan hambatan baru.
Serangan Hamas pada Oktober 2023 terhadap Israel mengakibatkan kematian 1.208 orang, sebagian besar warga sipil, menurut data resmi Israel.
Serangan militer balasan Israel telah menewaskan 45.805 orang di Gaza, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil, menurut angka dari kementerian kesehatan wilayah tersebut yang dianggap dapat dipercaya oleh PBB.