Orang-orang membersihkan puing-puing dari area yang rusak akibat serangan rudal Israel di dalam benteng bersejarah di Damaskus, Suriah, pada 20 Februari 2023. (Foto: Antara/Xinhua/Ammar Safarjalani/aa)
ISTANBUL, (ERAKINI) - Seranganrudal yang menargetkan Konsulat Iran di ibu kota Suriah, Damaskus, pada Senin (1/4/2024) menewaskan seorang komandan tertinggi Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran dan enam perwira lainnya.
Sayap hubungan masyarakat IRGC dalam pernyataannya mengumumkan tewasnya Jenderal Mohammad Reza Zahedi, seorang komandan senior Pasukan Quds IRGC di Suriah dan Lebanon, wakilnya Jenderal Hadi Haj Rahimi dan 5 anggota militer lainnya dalam serangan di sebuah gedung yang menjadi tempat tinggal bagian konsuler Kedutaan Besar Iran di ibu kota Suriah.
Kelima perwira lainnya yang menjadi korban adalah Hossein Amanollahi, Seyyed Mahdi Jalalati, Mohsen Sadaqat, Ali Agha Babaei dan Syed Ali Salehi Rozbahani, semuanya anggota IRGC.
Dikatakan dalam pernyataan itu bahwa Israel melakukan serangan tersebut "menyusul kekalahan yang tidak dapat diperbaiki melawan perlawanan Palestina", mengacu pada serangan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 32.800 orang, yang sebagian besar anak-anak, sejak 7 Oktober.
Adapun Zahedi adalah seorang komandan veteran IRGC yang sebelumnya memimpin angkatan darat dan angkatan udara IRGC dan juga menjabat sebagai wakil komandan operasi militer IRGC.
Seranganrudal itu dilaporkan menargetkan gedung yang berfungsi sebagai departemen urusan konsuler Kedutaan Besar Iran serta kediaman duta besar Iran. Disebutkan Duta Besar Iran untuk Suriah Hossein Akbari beserta keluarganya tidak mengalami cedera.
Akbari dalam pernyataannya kepada media usai serangan mengatakan bahwa gedung itu diserang dengan jet tempur F-35 dan enam rudal, menewaskan beberapa wakil menteri militer Iran.
Serangan itu, kata dia, melanggar konvensi internasional dan akan memberi "respon yang menentukan". Namun, Radio Militer Israel, mengatakan Kedutaan Besar Iran bukan target serangan itu, melainkan sebuah gedung di dekatnya yang berfungsi sebagai markas militer IRGC di Damaskus dibom, tanpa mengakui bahwa serangan itu dilakukan oleh Tel Aviv.
Kementerian Pertahanan Suriah, dalam sebuah pernyataan, menyebutkan bahwa serangan itu terjadi pada pukul 5 sore waktu setempat. Pernyataan itu menuduh Israel melakukan serangan dari Dataran Tinggi Golan.
Kementerian tersebut mengatakan pertahanan udaranya berhasil menjatuhkan beberapa rudal namun serangan tersebut menyebabkan "kehancuran total" bangunan itu dan membunuh serta mencederai semua orang yang ada di dalamnya.
Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad, yang mengunjungi Kedutaan Besar Iran setelah serangan, mengutuk hal itu yang dia sebut sebuah "serangan teroris keji", dan menyalahkan Israel.
Dalam percakapan telepon dengan Mekdad, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan serangan itu melanggar konvensi internasional dan memperingatkan bahwa Israel “harus bertanggung jawab atas konsekuensinya.”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan serangan itu bertentangan dengan Konvensi Wina 1961 dan mengatakan Iran berhak untuk merespons pada waktu dan tempat yang dipilihnya.
Serangan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut pasca serangan gencar Israel di Jalur Gaza.
Sebelumnya, ada laporan tentang kehadiran para pemimpin senior Palestina di gedung yang menjadi sasaran, termasuk pemimpin Jihad Islam Ziad al-Nakhaleh.
Nakhaleh dan ketua Hamas Ismail Haniyeh keduanya berada di Teheran awal pekan ini untuk mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin senior Iran.
Sementara itu, ribuan orang berkumpul di Lapangan Palestina di pusat kota Teheran untuk memprotes serangan terhadap Konsulat Iran di Suriah, dan menyerukan tindakan tegas. Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan keras yang menentang Israel dan AS. (ant)