Sejumlah anak-anak mengantre untuk mendapatkan makanan gratis di kota Rafah, Gaza, Senin (18/3/2024). Foto: Rizek Abdeljawad/Xinhua
YERUSSALEM, (ERAKINI) - Perdana Menteri IsraelBenjamin Netanyahu dengan tegas menolak seruan Amerika Serikat (AS) agar menghentikan serangan di Kota Rafah, Gaza, Palestina. Rafah saat ini didiami sekitar 1,5 juta pengungsi Palestina yang kondisinya kian memprihatinkan.
Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Netanyahu dan Presiden AS Joe Biden melalui panggilan telepon pada Senin (18/3/2024), sepakat bahwa tim mereka akan segera bertemu di Washington untuk mendiskusikan soal operasi darat besar-besaran Israel di Rafah. Delegasi tersebut, yang dipimpin Menteri Urusan Strategis Ron Dermer, akan berangkat pekan depan.
Sebelumnya pada Selasa (19/3/2024), Netanyahu mengatakan dalam pidatonya di depan Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan di parlemen Israel, bahwa serangan darat merupakan satu-satunya cara untuk mengalahkan militan Hamas di Rafah.
Dia menyampaikan kepada Biden bahwa Israel bertekad akan menyelesaikan pemusnahan batalion (Hamas) di Rafah, dan tidak ada cara untuk melakukan ini tanpa serangan darat.
Pasukan Israel telah melanjutkan serangan mereka di kompleks Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza City dengan tank dan serangan udara. Al-Shifa merupakan rumah sakit terbesar di wilayah Gaza dan menjadi salah satu kantong pengungsi warga Palestina.
Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pasukan mereka menewaskan lebih dari 50 militan Palestina dan sekitar 300 orang telah ditahan dalam serangan yang menarget militan "senior" Hamas itu. Sementata dua tentara Israel tewas dalam serangan tersebut, demikian diumumkan IDF.
Israel telah melancarkan serangan ke Gaza sejak 7 Oktober 2023 sebagai respons atas serangan Hamas. Israel langsung menerapkan blokade atas air, makanan, listrik, dan obat-obatan, sehingga mengakibatkan kekurangan pasokan.
Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi bantuan kemanusiaan mengungkapkan bahwa jumlah bantuan yang diizinkan oleh Israel untuk memasuki Gaza tidak memenuhi kebutuhan mendesak yang diperlukan guna mencegah meluasnya kelaparan.
"Prediksi kelaparan yang akan segera terjadi di Gaza dapat dicegah," kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk dalam sebuah pernyataan video, dikutip Xinhua.
"Masifnya pembatasan yang dilakukan Israel terhadap arus bantuan, serta cara Israel melakukan pertempuran, bisa dibilang sama saja dengan menggunakan kelaparan sebagai metode perang," tegas Turk.
Pernyataan itu disampaikan Turk sehari setelah Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification/IPC) merilis laporan yang memperingatkan bahwa "kelaparan akan segera terjadi di wilayah utara dan diperkirakan akan terjadi sewaktu-waktu antara pertengahan Maret hingga Mei 2024."
Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UN Relief and Works Agency for Palestine Refugees/UNRWA) memperingatkan melalui platform media sosial X bahwa sedikitnya 23 anak telah meninggal karena malanutrisi akut, dan makin banyak anak-anak berada di ambang kematian akibat kelaparan, terutama di Gaza Utara.