PBB menyalakan alarm darurat kemanusiaan global. Untuk pertama kalinya, badan dunia itu terpaksa memangkas anggaran bantuan kemanusiaan setengah dari kebutuhan. Foto: Ilustrasi/AP
JAKARTA, (ERAKINI) – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyalakan alarm darurat kemanusiaan global. Untuk pertama kalinya, badan dunia itu terpaksa memangkas anggaranbantuan kemanusiaan setengah dari kebutuhan akibat konflik dan bencana di berbagai belahan dunia.
PBB pada Senin (8/12/2025) mengumumkan "pilihan brutal’ terkait dana bantuan 2026 dari negara pendonor, yakni hanya meminta USD23 miliar. Jumlah ini hanya setengah dari kebutuhan sebenarnya. Langkah ini membuat puluhan juta nyawa terancam tak tersentuh bantuan.
Sebelumnya, PBB menargetkan dana bantuan USD47 miliar untuk 2025. Namun, angka itu direvisi setelah pemangkasan bantuan oleh pemerintahan baru Amerika Serikat, yang kemudian diikuti pendonor besar lainnya, termasuk Jerman. Hingga November 2025, PBB baru menerima USD12 miliar, terendah dalam satu dekade, atau hanya sedikit lebih dari seperempat dari total kebutuhan.
Kondisi tersebut memaksa PBB memprioritaskan hanya mereka yang paling membutuhkan, meskipun kebutuhan kemanusiaan global berada pada titik tertinggi. Kepala Bantuan KemanusiaanPBB, Tom Fletcher, memperingatkan bahwa lembaga dan organisasi kemanusiaan juga menghadapi tekanan besar di zona konflik, selain pemangkasan dana donor.
“Kami kewalahan, kekurangan dana, dan berada di bawah serangan,” katanya dilansir Al Jazeera. “Kami mengemudikan ambulans menuju titik api atas nama Anda. Namun kini kami juga diminta memadamkan api itu, sementara air di tangki tidak cukup, dan kami ditembaki,” lanjutnya.
Fletcher menyoroti meningkatnya apatisme internasional di tengah penderitaan luas yang ia saksikan sepanjang 2025, dan menyebut lembaganya kini menghadapi “pilihan-pilihan brutal”.
Rencana kemanusiaan PBB untuk 2026 mengidentifikasi 87 juta orang sebagai kelompok prioritas, karena hidup mereka berada dalam ancaman langsung. Padahal, sekitar seperempat miliar orang membutuhkan bantuan mendesak. PBB menargetkan mampu membantu 135 juta orang dengan biaya USD33 miliar, jika pendanaan terpenuhi.
Gaza Jadi Prioritas Terbesar
Permohonan tunggal terbesar senilai USD4 miliar, dialokasikan untuk wilayah pendudukan Palestina. Sebagian besar diarahkan ke Gaza yang luluh lantak akibat perang Israel, meninggalkan hampir seluruh 2,3 juta penduduknya tanpa rumah dan bergantung pada bantuan.
Prioritas berikutnya adalah Sudan, disusul Suriah. Fletcher menyatakan bahwa seruan bantuan ini sangat terfokus pada upaya penyelamatan nyawa di lokasi yang terdampak paling parah, yakni perang, bencana iklim, gempa bumi, epidemi, hingga gagal panen.
Secara keseluruhan, PBB memperkirakan 240 juta orang terdampak konflik, wabah penyakit, atau bencana alam dan perubahan iklim. Mereka sangat membutuhkan bantuan darurat.
Jika kekurangan pendanaan kembali terjadi, PBB berencana memperluas kampanye kepada masyarakat sipil, dunia usaha, dan publik luas.
Data menunjukkan Amerika Serikat tetap menjadi donor terbesar PBB pada 2025, meski mengalami pemangkasan oleh Presiden Donald Trump. Namun kontribusinya turun drastis, dari lebih dari sepertiga total pendanaan menjadi hanya 15,6 persen.