Pertukaran Ke-3, Hamas Bebaskan 8 Sandera dari Gaza dengan Imbalan 110 Tahanan Palestina
Akhmad Baihaqi Arsyad







Kedelapan sandera, 5 pekerja pertanian Thailand dan 3 warga negara Jerman-Israel, itu dibebaskan pada gencatan senjata yang kini memasuki minggu kedua, sebagaimana dilansir dari AP, Jumat (31/1/2025).
Pemandangan kacau dari pejuang bersenjata yang mengawal sandera Israel di tengah ribuan penonton menyebabkan para pemimpin Israel menunda pembebasan tahanan Palestina untuk sementara waktu, menggarisbawahi rapuhnya gencatan senjata saat ini.
Selain itu, Hamas pada hari Kamis (30/1/2025) juga mengkonfirmasi untuk pertama kalinya bahwa Israel membunuh kepala sayap militernya, Mohammed Deif, dalam serangan udara tahun lalu. Deif adalah salah satu tersangka dalang serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza.
Melansir Al Jazeera, Hamas baru mengonfirmasi bahwa komandan militer utamanya Mohammed Deif telah terbunuh. Sementara Militer Israel mengatakan pihaknya membunuh Deif dalam serangan udara pada bulan Juli, namun kelompok Palestina belum mengkonfirmasi kematiannya hingga Kamis (30/1/2025).
Juru bicara Brigade Qassam, sayap bersenjata Hamas, mengatakan kematiannya “sesuai”. “Ini sesuai dengan pemimpin kami Mohammed Deif, yang telah menguras tenaga musuh selama lebih dari 30 tahun,” kata Abu Obeida.
“Bagaimana, demi Tuhan, Mohammed Deif bisa disebutkan dalam sejarah tanpa gelar ‘syahid’ dan tanpa medali syahid?” Abu Obeida bertanya.
Deif adalah salah satu pendiri Brigade Qassam pada tahun 1990an dan memimpin pasukan tersebut selama lebih dari 20 tahun. Dia dilaporkan merencanakan serangan yang menyebabkan kematian puluhan warga Israel. Deif juga diyakini telah mengembangkan jaringan terowongan kelompok tersebut dan keahliannya dalam membuat bom.
