Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menghadiri upacara penandatanganan perjanjian kerangka kerja, yang bertujuan untuk mempercepat pembangunan permukiman Israel di Maale Adumim, di wilayah pendudukan Tepi Barat pada 11 September 2025. Pada Agustus 2025, Israel menyetujui proyek permukiman besar di wilayah pendudukan Tepi Barat yang telah diperingatkan oleh komunitas internasional akan mengancam kelangsungan negara Palestina di masa depan. (Foto: AFP)
YERUSALEM, (ERAKINI)- Upaya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menargetkan para pemimpin di pengasingan tampaknya menjadi langkah berisiko tinggi yang kini berbalik menghantam balik dirinya.
Alih-alih memperkuat posisi tawar Israel dalam konflik Gaza, serangan udara tersebut justru memicu kemarahan diplomatik, memperkeruh jalur negosiasi, dan memperlemah legitimasi internasionalnya yang telah lama tergerus.
Pada Selasa lalu, serangan udara yang diarahkan ke wilayah Qatar menyasar pertemuan pimpinan Hamas yang sedang membahas proposal gencatan senjata baru dari Amerika Serikat. Namun, meski menewaskan lima anggota Hamas tingkat bawah dan satu pengawal keamanan Qatar, para target utama dilaporkan berhasil selamat—klaim yang dikemukakan langsung oleh pihak Hamas.
Bagi Netanyahu, misi ini seharusnya menjadi bagian dari strategi jangka panjangnya: mendeklarasikan “kemenangan total” dengan melenyapkan kepemimpinan Hamas di semua lini, termasuk mereka yang berada di luar negeri. Namun, alih-alih membawa kemenangan, serangan tersebut memicu badai kritik internasional, termasuk dari Qatar yang selama ini menjadi mediator utama dalam upaya damai dan pembebasan sandera.
Hubungan dengan Qatar Memburuk, Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Qatar, yang berperan penting dalam menengahi dua kali gencatan senjata serta membebaskan 148 sandera (termasuk delapan jenazah), kini menyatakan frustrasi terhadap langkah Israel. Dalam pernyataan terbaru, Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengisyaratkan bahwa negaranya akan menghentikan keterlibatan dalam proses mediasi. “Setelah serangan ini, saya rasa tidak ada lagi yang relevan dalam perundingan,” ujarnya, singkat namun tegas.
Langkah ofensif Israel ini dipandang sebagai sinyal bahwa Tel Aviv telah meninggalkan jalur diplomasi demi ambisi militer. Sebagaimana diungkap pakar Timur Tengah dari Universitas Tel Aviv, Harel Chorev, “Serangan ini adalah pesan kepada dunia bahwa Israel tak lagi menaruh harapan pada negosiasi. Mereka memilih untuk memutuskan saluran diplomatik dengan Qatar.”
Meski serangan itu gagal mencapai sasaran strategis, Netanyahu tampak enggan mundur. Tekanan dari koalisi sayap kanan dalam pemerintahannya justru membuatnya terpojok: mereka menuntut kelanjutan serangan intensif, termasuk ke wilayah Kota Gaza, bahkan jika itu bertentangan dengan pandangan militer dan arus opini publik di dalam negeri.
Koalisi garis keras tersebut telah berulang kali mengancam akan menarik dukungan jika Netanyahu menunjukkan tanda-tanda melemah atau berkompromi dengan Hamas. Dalam kondisi seperti ini, serangan ke Qatar diduga menjadi upaya Netanyahu untuk mempertahankan loyalitas politik internalnya, meskipun harus mengorbankan kredibilitas luar negeri.
Seandainya serangan udara berhasil membunuh para pemimpin senior Hamas, Netanyahu kemungkinan besar akan menggunakan momentum itu sebagai deklarasi kemenangan — sebuah narasi yang dibutuhkan untuk meredam tekanan politik domestik dan mengamankan posisinya. Namun, karena hasilnya nihil, justru reputasi Israel di mata dunia menjadi taruhan besar.
Setelah hampir dua tahun serangan habis-habisan di Gaza, sebagian besar pimpinan Hamas lokal memang telah terbunuh. Namun, kekuatan organisasi tersebut belum benar-benar tereliminasi, dan kini, jalur diplomasi untuk membebaskan sekitar 20 sandera yang diyakini masih hidup di Gaza pun semakin sempit.
“Dengan jalur negosiasi tertutup dan target yang meleset, kita jadi bertanya: bagaimana Netanyahu berencana menyelamatkan sandera yang tersisa?” ujar seorang analis politik Israel.
Langkah Netanyahu menyerang pemimpin Hamas di Qatar bisa dibilang sebagai perjudian politik dan militer. Namun, hasilnya saat ini menunjukkan lebih banyak kerugian strategis daripada pencapaian taktis. Ketegangan dengan Qatar meningkat, proses negosiasi membeku, dan nasib para sandera kini semakin tidak menentu.
Dengan kredibilitas yang terus terkikis dan tekanan dari koalisi sayap kanan yang tak kunjung reda, Netanyahu menghadapi dilema besar: terus memaksakan jalur militer yang belum tentu berhasil — atau mencoba merajut kembali diplomasi yang sudah terlanjur rusak.