Anwar Ibrahim (tengah) saat menyatukan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Penjabat Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai, Senin (28/7/2025). Foto: Instagram @anwaribrahim_my
JAKARTA, (ERAKINI) - Sosok Dato’ Seri Anwar Ibrahim tengah menjadi sorotan dengan keberhasilannya memediasi konflik Thailand dan Kamboja untuk menyepakati gencatan senjata. Bahkan, tak segan memberikan apresiasi dan pujian atas kepemimpinan .
“Pertama saya ingin mengucapkan selamat, tahniah atas kepemimpinan leadership daripada Dato’ Seri memimpin ASEAN. Bapak berhasil dalam mediasi, berhasil mencapai gencatan senjata dalam konflik antara Thailand sama Kamboja. Ini suatu yang patut kita syukuri,” ujar Presiden Prabowo dalam pertemuannya dengan Anwar Ibrahim di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (29/7/2025).
Sosok Anwa Ibrahim bukanlah nama asing dalam percaturan politik Asia Tenggara. Ia adalah politikus senior yang cukup dihormati para pemimpin negara-negara ASEAN. Anwar Ibrahim saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia dan sekaligus Ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Namun, kiprah dan perjalanannya menuju kursi tertinggi negeri Jiran penuh liku, pengorbanan dan perjuangan panjang.
Dirangkum Erakini dari berbagai sumber, Anwar Ibraham lahir pada 10 Agustus 1947 di Cherok Tok Kun, Penang (sekarang Malaysia). Anwar berasal dari keluarga yang sudah akrab dengan dunia politik sejak tahun 1947. Ayahnya, Ibrahim Abdul Rahman, adalah mantan anggota parlemen dan ibunya, Che Yan Hussein, adalah seorang organisator politik di negara bagian utara Penang, yang saat itu merupakan bagian dari kekaisaran Inggris.
Dari darah dan didikan itulah semangat juangnya tumbuh. Semasa mahasiswa, ia tampil sebagai aktivis vokal. Sosok pahlawan revolusioner Filipina, Jose Rizal, menjadi inspirasi awalnya. Anwar menggambarkan Rizal sebagai "pria renaisans Asia sejati". Anwar Ibrahim dikenal seorang politikus ulung, reformis, dan Islamis moderat Malaysia. Ia memegang banyak jabatan pemerintahan di akhir abad ke-20 sebelum dipenjara karena berbagai kasus.
Dari Agustus 2005 hingga Desember 2006, ia sempat menjabat sebagai Profesor Islam Malaysia di Asia Tenggara di Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding di Edmund A Walsh School of Foreign Service, Universitas Georgetown. Di sana, ia mengajar politik kontemporer di Asia Tenggara dengan fokus pada peran Islam dalam membentuk evolusi politik di kawasan tersebut.
Anwar banyak memberikan kuliah di seluruh dunia tentang tata kelola dan akuntabilitas, hubungan antara Islam dan demokrasi, perlunya dialog peradaban yang lebih luas, dan politik kontemporer di Malaysia dan Asia Tenggara. Artikel dan pidatonya tentang topik-topik ini telah dipublikasikan secara luas di surat kabar dan jurnal terkemuka di seluruh dunia.
Ia sangat dihormati secara internasional sebagai pemimpin dalam dialog antaragama dan hubungan Muslim-Kristen, dan merupakan salah satu penandatangan awal inisiatif Common Word. Ia juga pernah mengajar di Johns Hopkins School of Advanced International Studies dan St Anthony's College di Universitas Oxford.
Sebagai pemimpin mahasiswa, ia adalah pendiri Gerakan Pemuda Muslim Malaysia dan memiliki pengalaman luas bekerja dengan partai-partai politik Muslim. Anwar memulai karier politiknya pada akhir 1960-an di Universitas Malaya di Kuala Lumpur, di mana ia dikenal sebagai pemimpin mahasiswa Islamis.
Pada tahun 1971, ia mendirikan Gerakan Pemuda Muslim Malaysia dan menjabat sebagai presiden hingga tahun 1982. Meskipun keras mengkritik koalisi Barisan Nasional (BN) yang berkuasa dan komponen terkuatnya, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), karier politik Anwar bukannya terkekang.
Pada tahun 1982, Anwar mengejutkan banyak pihak dengan bergabung ke UMNO atas ajakan Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Di bawah Mahathir, kariernya pun melesat cepat. Ia menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menteri Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga pada tahun 1983; Menteri Pertanian pada tahun 1984; dan Menteri Pendidikan pada tahun 1986.
Puncaknya, Anwar Ibrahim menjabat Wakil Perdana Menteri Malaysia dari tahun 1993 hingga 1998. Ia juga menjabat sebagai Ketua Komite Pembangunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional pada tahun 1998 dan presiden Konferensi Umum UNESCO.
Namun, hubungan mentor dan murid ini pecah saat krisis keuangan Asia 1997 menghantam. Perbedaan pandangan ekonomi membuat Mahathir mencopot Anwar dari jabatannya pada tahun 1998. Tak lama kemudian, badai lebih besar datang. Pada tahun 1999 ia dipenjara atas tuduhan korupsi, yang kemudian ditambahkan dengan tuduhan sodomi.
Ia dijatuhi hukuman enam tahun penjara atas tuduhan korupsi, ditambah hukuman penjara sembilan tahun untuk tuduhan sodomi pada tahun berikutnya. Hukuman tersebut dikritik secara luas oleh pemerintah asing dan kelompok hak asasi manusia karena dianggap dibuat-buat dan bermotif politik. Foto-foto Anwar dengan mata hitam, yang diduga akibat siksaan di penjara saat itu, dipublikasikan di surat kabar di seluruh dunia, menjadikannya simbol perjuangan yang mengusung seruan perang “reformasi”.
Meski dibungkam oleh jeruji besi selama hampir satu dekade, suara Anwar tidak pernah benar-benar padam. Setelah dibebaskan pada 2004, ia sempat menekuni dunia akademis, menjadi dosen tamu di Universitas Georgetown dan Universitas Oxford.
Namun politik Malaysia belum selesai mengujinya. Setelah memimpin koalisi oposisi pada Pemilu 2013, ia kembali dijebloskan ke penjara pada 2015 atas dakwaan serupa. Kali ini pun, sorotan internasional menyebutnya sebagai korban kriminalisasi politik.
Titik balik datang pada tahun 2018, ketika ia mendapat pengampunan kerajaan. Dalam momen bersejarah, ia bersatu kembali dengan musuh lamanya, Mahatir, untuk menggulingkan Najib Razak dan koalisi UMNO. Mereka berhasil. Mahathir kembali menjabat sebagai Perdana Menteri, dengan janji menyerahkan kursi kepada Anwar. Namun janji tinggal janji. Koalisi mereka runtuh sebelum kesepakatan terlaksana.
Hingga akhirnya, dalam Pemilu 2022 yang menghasilkan kebuntuan politik, Anwar dipilih oleh Raja Malaysia untuk memimpin pemerintahan persatuan. Setelah puluhan tahun berjuang, jatuh-bangun di arena politik dan di balik jeruji besi, Anwar resmi menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia hingga sekarang. Anwar pun kini menjadi perisai perdamaianASEAN.