Prajurit berbaris dalam parade memperingati Hari Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand pada 18 Januari 2023 di Pusat Kavaleri Angkatan Darat di Saraburi. Foto: Bangkok Post
Awalnya pasukan Thailand dan Kamboja bentrok pada Kamis (24/7/2025) dini hari sekitar pukul 07.45 WIB di daerah yang masih menjadi sengketa. Terjadi baku tembak antara pasukan darat, yang kemudian meningkat intensitasnya.
"Pada pukul 09.40 pagi waktu setempat (09.40 WIB), Kamboja menyerang wilayah perbatasan Provinsi Sisaket dengan sistem roket BM-21 Grad," tulis pernyataan resmi Komando Wilayah Militer ke-2 Angkatan Darat Kerajaan Thailand.
Sebagai balasan, pada pukul 10.51 enam jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Thailand diterbangkan untuk melancarkan serangan udara terhadap pasukan Kamboja.
"Pada pukul 10.58, pilot melaporkan bahwa serangan berhasil mengenai posisi Batalion Infanteri ke-8 dan ke-9 Kamboja," bunyi pernyataan itu.
Serangan ini membuat Kamboja murka. Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja mengecam keras agresi militer Thailand yang disebutnya brutal, biadab, dan tanpa belas kasih, serta telah dinilai melanggar kedaulatan dan keutuhan wilayah Kamboja.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja Maly Socheata menegaskan bahwa militer Kamboja berkomitmen mempertahankan kedaulatan negara dan rakyatnya dengan segala cara. Berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, Kamboja menyatakan hak sahnya untuk membela diri dan akan memberikan respons tegas terhadap agresi brutal Thailand.
“Kamboja tidak akan tunduk pada tekanan atau intimidasi dalam bentuk apa pun. Pemerintah Kerajaan, militer, dan rakyat Kamboja bersatu dalam mempertahankan wilayah, martabat, dan kedaulatan kami tanpa goyah, berapa pun harganya,” tegasnya, dikutip dari The Nation Thailand.
Lantas bagaimana kemampuan Kamboja dalam menahan serangan Thailand jika perang terus berlanjut? Secara head to head, kekuatan kedua negara dilihat dari aspek personel, keuangan, persenjataan, hingga logistik, sangat tidak berimbang.
Berdasarkan Peringkat Kekuatan Militer Tahun 2025 yang dirilis Global Firepower (GFP), Thailand menempati posisi ke-25 dunia, sementara Kamboja berada jauh di bawahnya, di peringkat ke-95 dari total 145 negara yang dianalisis oleh GlobalFirepower.
Dengan populasi hampir 70 juta jiwa, Thailand memiliki lebih dari 360.850 personel aktif dan 200 ribu cadangan, jauh lebih besar dibanding Kamboja yang hanya memiliki 221 ribu personel aktif dan tanpa cadangan militer sama sekali. Pasukan paramiliter Thailand juga lebih banyak, yakni 25 ribu personel berbanding 10 ribu milik Kamboja.
Dari sisi anggaran pertahanan, Thailand mengalokasikan sekitar $5,88 miliar, sedangkan Kamboja hanya menganggarkan $860 juta. Perbedaan ini jelas berdampak pada modernisasi alutsista dan kesiapan tempur masing-masing negara.
Dalam hal kekuatan udara, Thailand sangat dominan. Mereka memiliki total 493 pesawat sedangkan Kamboja hanya punya 25 unit dan tanpa satupun jet tempur atau helikopter serang.
Meski Thailand lebih unggul dalam jumlah kendaraan lapis baja (16.935 unit) dan artileri tarik, Kamboja secara mengejutkan memiliki keunggulan dalam hal peluncur roket, dengan 463 unit, bahkan masuk 10 besar dunia di kategori ini. Namun, dalam hal tank, jumlah kedua negara hampir imbang, dengan Thailand memiliki 635 unit dan Kamboja 644 unit.
Untuk armada laut, Thailand lebih lengkap dan modern.Thailand memiliki 293 kapal angkatan laut, sementara Kamboja hanya mengoperasikan 20 kapal patroli. Thailand juga memiliki kapal pemburu ranjau, sedangkan Kamboja tidak memiliki satu pun kapal perang utama seperti fregat atau korvet.