Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyebut bahwa perang Gaza bisa berakhir jika Hamas menyerahkan senjata dan membebaskan sandera. (Foto: Reuters).
YERUSALEM, (ERAKINI) – Menteri Luar NegeriIsrael, Gideon Saar, menyatakan bahwa konflik berkepanjangan di Jalur Gaza dapat segera dihentikan jika kelompok militan Hamas menyerah dan membebaskan seluruh . Pernyataan itu disampaikan Saar dalam konferensi pers bersama Menlu Denmark, di Yerusalem pada Minggu (7/9/2025).
Pernyataan tersebut muncul hanya sehari setelah Hamas kembali menegaskan syarat mereka: penghentian perang dan penarikan pasukan Israel dari Gaza, sebagai prasyarat untuk membebaskan seluruh sandera yang masih ditahan sejak konflik meletus.
Tekanan Warga Menguat: “Selamatkan Sandera Sekarang!”
Gelombang tekanan publik terhadap pemerintah Israel kian meningkat. Pada Sabtu malam, puluhan ribu warga Israel turun ke jalan di Tel Aviv, menggelar demonstrasi besar-besaran di sekitar markas besar militer.
Massa membawa bendera nasional dan poster bergambar para sandera yang diyakini masih berada di Gaza. Spanduk dengan pesan tegas kepada Presiden AS, Donald Trump, turut menghiasi aksi tersebut—di antaranya berbunyi: “Selamatkan Para Sandera Sekarang!” dan “Warisan Trump Hancur Bersama PerangGaza”.
Seorang warga bernama Boaz (40) menyuarakan harapannya agar Trump menggunakan pengaruh politiknya terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. “Hanya Trump yang cukup kuat untuk menekan Bibi agar segera bertindak,” katanya.
Kecaman Terhadap Netanyahu dan Kekhawatiran Keluarga Sandera
Semakin banyak warga Israel yang kecewa dengan keputusan militer Netanyahu untuk menggempur jantung Kota Gaza, yang justru diyakini sebagai lokasi para sandera ditahan. Banyak keluarga korban khawatir operasi militer tersebut malah memperbesar risiko terhadap keselamatan orang-orang yang mereka cintai.
Orna Neutra, ibu dari seorang tentara Israel-Amerika yang gugur dalam serangan 7 Oktober 2023, menilai pemerintah tidak menjalankan kewajiban melindungi warganya. Jenazah putranya, Omer, hingga kini belum dikembalikan dan masih berada di tangan Hamas. “Sudah waktunya Amerika mengambil peran lebih nyata untuk mendorong penyelesaian damai,” ujar Orna di tengah aksi demonstrasi.
Demonstrasi serupa berlangsung rutin tiap akhir pekan, baik di Tel Aviv maupun Yerusalem. Aksi kali ini diklaim sebagai salah satu yang terbesar, menuntut pemerintah segera mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas demi menyelamatkan para tawanan perang.
Selama kampanye presiden, Donald Trump sempat berkomitmen untuk mengakhiri konflik Gaza. Namun, setelah delapan bulan menjabat kembali sebagai Presiden AS, belum terlihat terobosan diplomatik yang nyata.
Pada Jumat lalu, Trump mengklaim bahwa Washington sedang terlibat dalam “negosiasi serius” dengan Hamas. Namun, belum ada hasil konkret dari upaya tersebut. Sementara itu, militer Israel terus menggempur wilayah utara Gaza. Organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa krisis pangan akut tengah melanda kawasan tersebut, dengan ratusan ribu warga Palestina berada dalam ancaman kelaparan.