Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Ekuador Gabriela Sommerfeld di Palacio de Carondelet, Quito, Ekuador, Kamis, 4 September 2025. (Foto: Reuters).
YERUSALEM, (ERAKINI) -Senator senior Amerika Serikat, Marco Rubio, tiba di Israel pada hari Minggu (waktu setempat), membawa pesan dukungan kuat dari pemerintahan Trump bagi Tel Aviv, menyusul serangan kontroversial yang dilakukan terhadap tokoh-tokoh Hamas di Doha, —sekutu utama di kawasan Teluk.
Langkah militer Israel tersebut, yang menargetkan pertemuan elite pimpinan Hamas di kawasan eksklusif ibu kota Qatar, menjadi insiden pertama yang secara langsung menyerang wilayah sekutu Washington, dan menimbulkan gejolak diplomatik serta kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari Presiden Donald Trump sendiri.
Meskipun Trump mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap operasi tersebut, Rubio menegaskan bahwa hubungan strategis antara AS dan Israel akan tetap terjaga. "Presiden tidak senang atas kejadian itu," ujar Rubio sebelum bertolak ke Timur Tengah pada Sabtu, "namun hal tersebut tidak akan mengubah esensi kemitraan kami dengan Israel." Ia juga menambahkan bahwa kedua negara akan segera berdiskusi terkait dampak serangan terhadap proses negosiasi gencatan senjata di Gaza.
SeranganIsrael pada hari Selasa itu disebut menghantam pertemuan penting Hamas yang tengah membahas usulan gencatan senjata yang diajukan oleh AS. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, membela keputusan tersebut, menyatakan bahwa eliminasi sejumlah tokoh senior Hamas merupakan langkah untuk menyingkirkan “hambatan utama” menuju perdamaian.
Sementara itu, konflik di Gaza justru semakin memanas. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Israel memperkuat operasinya di Kota Gaza—daerah paling padat di wilayah tersebut—dengan meminta warga sipil untuk meninggalkan rumah mereka dan menghancurkan sejumlah gedung tinggi yang disebut sebagai fasilitas militer Hamas.
Walaupun ratusan ribu orang dilaporkan telah mengungsi, masih banyak warga yang bertahan di kota tersebut. Data PBB hingga akhir Agustus memperkirakan sekitar satu juta penduduk masih berada di Kota Gaza dan sekitarnya. Lembaga dunia tersebut juga telah memperingatkan adanya krisis kelaparan akut yang diperparah oleh pembatasan bantuan kemanusiaan oleh Israel.
Bakri Diab, warga sipil berusia 35 tahun yang mengungsi dari Gaza barat ke wilayah selatan, menggambarkan situasi yang semakin memburuk. “Israel hanya memaksa kami berkumpul di tempat yang tak memiliki layanan dasar maupun keamanan,” keluh ayah empat anak itu.
Menurut laporan dari otoritas pertahanan sipil Gaza, seranganIsrael pada Sabtu mengakibatkan sedikitnya 32 korban jiwa. Namun, keterbatasan akses jurnalis dan ketatnya kontrol media membuat informasi ini belum bisa diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga, termasuk AFP.
Kecaman internasional terhadap Israel terus menguat, terlebih setelah Majelis Umum PBB pada Jumat lalu mengesahkan resolusi yang mendukung kebangkitan solusi dua negara. Langkah ini dilakukan meski mendapat penolakan tegas dari Tel Aviv.
Beberapa negara Barat yang sebelumnya mendukung Israel, seperti Inggris, Prancis, dan Jerman, kini mulai menunjukkan sikap tegas. Mereka menyerukan penghentian segera operasi militer di Gaza, serta secara terbuka mempertimbangkan pengakuan resmi terhadap negara Palestina sebagai respons atas aksi militer Israel yang semakin agresif, baik di Gaza maupun di Tepi Barat yang diduduki.
Namun demikian, dukungan dari Amerika Serikat sebagai mitra utama Israel masih tetap kuat. Menjelang kedatangan Rubio, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyatakan bahwa kunjungan tersebut bertujuan menegaskan sikap Washington dalam menentang “tindakan anti-Israel,” termasuk pengakuan negara Palestina yang dinilai sebagai bentuk legitimasi terhadap Hamas.
Rubio juga dijadwalkan akan menekankan dua prioritas utama dalam pertemuannya dengan pejabat Israel: mencegah Hamas kembali menguasai Gaza dan memastikan semua sandera yang masih ditahan dapat dipulangkan.
Di dalam negeri, tekanan terhadap Netanyahu juga meningkat. Kelompok-kelompok sipil dan keluarga sandera mendesak pemerintah agar menyepakati kesepakatan gencatan senjata demi pembebasan sandera yang tersisa.
Forum Sandera dan Keluarga Hilang, salah satu organisasi kampanye utama di Israel, secara terbuka menyebut Netanyahu sebagai “hambatan utama” dalam proses penyelesaian krisis. Mereka menuduhnya secara aktif menggagalkan negosiasi untuk menghentikan perang demi agenda politiknya.
Menurut data militer Israel, dari 251 orang yang disandera oleh kelompok militan Palestina sejak Oktober 2023, masih ada 47 orang yang belum dipulangkan, dan setidaknya 25 di antaranya telah dinyatakan meninggal dunia.
Perang terbaru ini dipicu oleh serangan Hamas ke wilayah Israel pada Oktober 2023, yang menewaskan 1.219 orang, mayoritas warga sipil, menurut data AFP berdasarkan catatan resmi Israel.
Sebagai respons, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran ke Jalur Gaza yang hingga kini, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, telah menyebabkan lebih dari 64.803 korban jiwa, sebagian besar adalah warga sipil. Angka-angka ini diakui sebagai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.