Ilustrasi - Mediator Oman mengungkap bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran siap untuk mempertimbangkan gagasan baru demi meredakan krisis nuklir. (Foto: Fox News).
JENEWA, (ERAKINI) - Pemerintah Oman selaku mediator menyampaikan bahwa Iran dan Amerika Serikat menunjukkan sikap terbuka terhadap berbagai pendekatan baru dalam perundingan tidak langsung yang kembali digelar di Jenewa. Sinyal ini dinilai sebagai perkembangan positif di tengah hubungan kedua negara yang telah lama diwarnai ketegangan.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan bahwa para perunding dari kedua pihak memperlihatkan keterbukaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ide-ide segar dan solusi inovatif. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuannya dengan utusan Amerika Serikat, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, mengungkapkan kemungkinan kehadiran Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency, Rafael Grossi, dalam putaran ketiga pembicaraan. Kehadiran kepala badan pengawas nuklir PBB tersebut dinilai penting, sebagaimana pada pertemuan sebelumnya, guna memberikan dukungan teknis dan meningkatkan transparansi.
Putaran terbaru ini berlangsung setelah Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya kembali melontarkan ancaman akan menyerang Iran jika kesepakatan tidak tercapai. Dalam pidato kenegaraan, ia menuduh Teheran memiliki ambisi nuklir berbahaya serta mengembangkan rudal yang disebutnya berpotensi mengancam Eropa dan Amerika Serikat.
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah keras tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai pernyataan tidak berdasar. Secara resmi, Iran menyatakan bahwa jangkauan maksimum rudalnya sekitar 2.000 kilometer. Bahkan sejumlah perkiraan di Amerika sendiri menilai jangkauan tersebut tidak lebih dari 3.000 kilometer, angka yang masih jauh dari daratan utama AS.
Dari Teheran, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, kembali menegaskan bahwa negaranya sama sekali tidak mengejar kepemilikan senjata nuklir. Ia merujuk pada kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemimpin tertinggi Iran dan menekankan bahwa doktrin negara tidak mengizinkan pengembangan senjata tersebut.
Perselisihan utama antara kedua negara memang berpusat pada program nuklirIran. Negara-negara Barat menuding program tersebut memiliki tujuan militer, sedangkan Teheran berulang kali menegaskan bahwa kegiatannya murni untuk kepentingan damai dan energi sipil.
Di sisi lain, Washington juga mendorong agar pembahasan mencakup program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang berseberangan dengan Israel. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa isu rudal merupakan persoalan penting yang perlu dibicarakan, meskipun ia menambahkan bahwa Presiden menginginkan penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Iran tetap bersikukuh bahwa pembahasan difokuskan pada isu nuklir dan menuntut pencabutan sanksi ekonomi AS sebagai bagian integral dari kesepakatan apa pun.
Sehari sebelum perundingan, Presiden Pezeshkian menyampaikan pandangan positif terhadap proses dialog tersebut. Ia berharap negosiasi ini mampu membawa kedua negara keluar dari kondisi yang selama ini berada di antara konflik terbuka dan perdamaian yang nyata.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi negaranya, menyebut momentum ini sebagai peluang bersejarah. Menurutnya, keberhasilan perundingan sangat bergantung pada keseriusan semua pihak serta konsistensi antara pernyataan dan tindakan.
Sebelumnya, pembicaraan tahap awal berlangsung di Oman sebelum berlanjut ke Jenewa. Upaya diplomasi sempat terganggu ketika Israel melancarkan serangan mendadak pada Juni lalu yang memicu konflik singkat selama 12 hari dan diikuti keterlibatan Washington dalam serangan terhadap fasilitas nuklirIran.
Ketegangan juga meningkat pada Januari akibat dinamika internal di Iran, yang kemudian memicu ancaman intervensi dari Washington. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran luas di kawasan. Analis keamanan Timur Tengah dari International Institute for Strategic Studies, Emile Hokayem, menilai bahwa kawasan saat ini berada dalam bayang-bayang kemungkinan konflik yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Sejumlah negara Timur Tengah dilaporkan berupaya mencegah pecahnya perang baru. Sementara itu, warga Teheran memiliki pandangan beragam mengenai masa depan situasi ini, antara harapan akan stabilitas dan kecemasan terhadap potensi krisis yang lebih luas.
Perundingan di Jenewa kini menjadi titik krusial. Dengan keterbukaan terhadap gagasan baru serta keterlibatan mediator dan lembaga internasional, peluang diplomasi masih terbuka, meski jalan menuju kesepakatan tetap penuh tantangan.