Kombinasi gambar dari cuplikan video yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Rusia pada 19 Februari 2022. Pesawat pembom Rusia Tu-95MS selama latihan Pasukan Pencegahan Strategis Grom-2022 di lokasi yang tidak ditentukan di Rusia. (Foto: AFP).
JENEWA, (ERAKINI) – Amerika Serikat (AS) menggelar pertemuan penting dengan perwakilan Rusia dan China di guna membahas isu persenjataan , menyusul berakhirnya perjanjian terakhir yang selama ini membatasi penyebaran hulu ledak antara Washington dan Moskow.
Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa pihaknya telah bertatap muka dengan delegasi Rusia dan dijadwalkan melanjutkan dialog dengan delegasi China keesokan harinya.
Menurutnya, sebelum pertemuan di Jenewa ini, Amerika Serikat lebih dulu mengadakan diskusi awal dengan Rusia dan China di Washington setelah berakhirnya perjanjian New START pada 5 Februari lalu. Ia menyebut pembicaraan di Jenewa kali ini berlangsung lebih mendalam dan substansial.
Selain itu, Washington juga melakukan komunikasi dengan dua kekuatan nuklir Eropa, yakni Inggris dan Prancis, dalam beberapa pekan terakhir guna membahas arah kebijakan pengendalian senjata ke depan.
Perjanjian New START sendiri merupakan kesepakatan terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia yang mengatur pembatasan jumlah hulu ledak nuklir strategis. Masa berlakunya resmi berakhir setelah Presiden AS, Donald Trump, mendorong pembentukan kesepakatan baru yang juga melibatkan Beijing.
Meski persenjataan nuklirChina masih berada di bawah jumlah yang dimiliki Amerika Serikat dan Rusia, perkembangan arsenal negara tersebut dinilai berlangsung cepat. Namun, Beijing secara terbuka menolak ajakan untuk terlibat dalam perundingan trilateral bersama Washington dan Moskow.
Dalam forum Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi, Christopher Yeaw, menilai perjanjian sebelumnya memiliki kelemahan mendasar. Ia menyebut kesepakatan tersebut tidak mengantisipasi lonjakan pengembangan senjata nuklirChina yang dinilai berlangsung cepat dan kurang transparan.
Pernyataan itu langsung dibantah oleh Duta Besar China untuk forum tersebut, Shen Jian. Ia menegaskan bahwa negaranya tidak berniat terlibat dalam perlombaan senjata nuklir dengan negara mana pun. Menurutnya, kapasitas nuklirChina tidak sebanding dengan negara-negara pemilik arsenal terbesar, sehingga tidak adil maupun realistis bila Beijing dipaksa ikut dalam skema perundingan tiga pihak.
Sementara itu, pejabat senior AS menyampaikan bahwa pemerintahan Trump mendorong terciptanya dialog stabilitas strategis secara multilateral. Ia membuka peluang berbagai format negosiasi, baik bilateral, multilateral, maupun bentuk kerja sama lainnya.
Langkah berikut yang dinilai logis adalah membawa isu ini ke forum P5, yakni lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB: Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan Prancis, yang seluruhnya merupakan negara pemilik senjata nuklir.
Kendati demikian, Washington menegaskan tidak akan terpaku pada satu model perundingan tertentu. Beragam jalur diplomasi akan ditempuh demi mencapai kesepakatan baru yang dinilai lebih komprehensif dan efektif dalam menekan risiko perlombaan senjata nuklir global.