Petugas polisi berjaga di luar kediaman duta besar Oman selama pembicaraan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran di Jenewa pada 17 Februari 2026. (Foto: AFP).
JENEWA, (ERAKINI) - Amerika Serikat (AS) kembali mengangkat isu program rudalIran menjelang dimulainya kembali perundingan tidak langsung dengan Teheran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Kamis (26/2/2026). Pertemuan ini diproyeksikan sebagai upaya untuk meredakan ketegangan yang telah memuncak selama beberapa pekan terakhir dan mencegah terjadinya konflik terbuka di kawasan.
Putaran dialog terbaru ini berlangsung di tengah peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, disertai pernyataan keras dari Presiden AS, Donald Trump, yang berulang kali melontarkan ancaman serangan apabila kesepakatan tidak tercapai.
Dalam pidato kenegaraannya, Trump menuding Iran memiliki ambisi nuklir yang berbahaya serta mengeklaim bahwa Teheran tengah mengembangkan sistem rudal yang mampu menjangkau Eropa bahkan Amerika Serikat. Tuduhan tersebut langsung dibantah keras oleh Kementerian Luar Negeri Iran yang menyebutnya sebagai klaim tidak berdasar dan sarat propaganda politik.
Secara resmi, Iran menyatakan bahwa jangkauan maksimum rudalnya berada di kisaran 2.000 kilometer. Bahkan sejumlah lembaga di Amerika sendiri memperkirakan jangkauan tersebut tidak lebih dari 3.000 kilometer, angka yang masih jauh dari jarak menuju daratan utama Amerika Serikat. Fakta ini memperlihatkan bahwa narasi ancaman global yang dibangun Washington patut dipertanyakan.
Perselisihan lama antara kedua negara terutama berkisar pada program nuklirIran. Negara-negara Barat menuduh program tersebut bertujuan mengembangkan senjata atom. Namun, Teheran secara konsisten menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata untuk kepentingan damai dan energi sipil.
Di luar isu nuklir, Washington juga berupaya memasukkan pembahasan mengenai program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok perlawanan di kawasan yang berseberangan dengan Israel. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bahkan menyebut penolakan Iran untuk membahas program rudal sebagai persoalan besar menjelang perundingan.
Meski demikian, pihak Gedung Putih tetap menyatakan bahwa jalur diplomasi adalah pilihan utama. Di sisi lain, Iran secara tegas menolak perluasan agenda perundingan di luar isu nuklir serta menuntut pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini membebani rakyatnya sebagai bagian tak terpisahkan dari kesepakatan apa pun.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan optimisme terhadap proses negosiasi. Ia menilai dialog ini berpotensi membawa situasi keluar dari kondisi “tidak perang dan tidak damai” yang telah berlangsung lama.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Teheran, menyebut perundingan ini sebagai peluang bersejarah. Menurutnya, kesepakatan sesungguhnya dapat diraih apabila pihak lawan menunjukkan itikad baik dan tidak bersikap kontradiktif antara pernyataan dan tindakan.
Amerika Serikat dalam perundingan ini diwakili oleh utusan khusus, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Sebelumnya, kedua negara telah melakukan pertemuan awal di Oman yang berperan sebagai mediator, sebelum melanjutkan pembahasan ke Jenewa. Upaya diplomasi terdahulu sempat kandas setelah Israel melancarkan serangan mendadak ke wilayah Iran pada Juni lalu, yang memicu perang singkat selama 12 hari dan diwarnai keterlibatan Washington melalui pengeboman fasilitas nuklirIran.
Ketegangan kembali meningkat pada Januari lalu menyusul dinamika internal di Iran yang dimanfaatkan sebagai dalih tekanan tambahan oleh Washington. Presiden Trump bahkan beberapa kali menyatakan kesiapan untuk “membantu” rakyat Iran—sebuah pernyataan yang dipandang banyak pihak sebagai bentuk intervensi terselubung.
Pengamat keamanan Timur Tengah dari International Institute for Strategic Studies, Emile Hokayem, menilai kawasan saat ini berada dalam ekspektasi konflik terbuka. Sejumlah negara Timur Tengah sebelumnya dilaporkan berupaya keras mencegah Amerika Serikat melakukan serangan langsung terhadap Iran, mengingat potensi perang yang jauh lebih luas dibandingkan insiden sebelumnya.
Di dalam negeri, warga Teheran memiliki pandangan beragam mengenai kemungkinan pecahnya konflik baru. Sebagian mengkhawatirkan dampak kemanusiaan yang berat, sementara yang lain menilai bahwa tekanan berkepanjangan tanpa kejelasan justru lebih menyiksa daripada konfrontasi terbuka.
Di tengah tekanan militer dan retorika keras, Iran tetap menegaskan komitmennya pada jalur diplomasi yang adil dan bermartabat. Teheran menuntut pengakuan atas hak kedaulatannya serta penghapusan sanksi yang telah berdampak luas terhadap ekonomi nasional.
Perundingan di Jenewa kini menjadi panggung penting: apakah Amerika Serikat benar-benar menginginkan solusi damai, atau sekadar melanjutkan strategi tekanan maksimal terhadap Republik Islam Iran. Yang jelas, Iran memasuki meja dialog dengan posisi tegas, siap berdiplomasi, tetapi tidak tunduk pada intimidasi.