Kepala Sekolah Indonesia Jeddah, Mahrani (Foto: MCH 2026).
JEDDAH, (ERAKINI) - Di tengah dinamika Kota Jeddah yang menjadi pintu masuk jutaan jamaah haji dari berbagai negara, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang memiliki peran lebih dari sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan.
Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) menjadi tempat bagi anak-anak Indonesia yang tumbuh jauh dari Tanah Air untuk mengenal bahasa, budaya, hingga nilai-nilai kebangsaan Indonesia.
Saat ini, SIJ menampung 1.368 siswa dengan latar belakang yang beragam, mulai dari anak diplomat, putra-putri pekerja migran Indonesia, hingga anak hasil perkawinan campuran antara warga negara Indonesia dan warga negara asing.
Kepala Sekolah Indonesia Jeddah, Mahrani, M.Pd, mengatakan SIJ menyelenggarakan pendidikan dari berbagai jenjang, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Menurut dia, mengelola seluruh jenjang pendidikan dalam satu lembaga bukanlah tantangan utama yang dihadapi sekolah.
"Mereka harus beradaptasi karena di sini sering kali mengajar lebih dari satu jenjang pendidikan," ujarnya, merujuk pada guru-guru yang baru datang dari Indonesia.
Saat ini, SIJ didukung oleh 78 tenaga pendidik dan kependidikan yang terdiri atas 56 guru dan 22 tenaga kependidikan.
Dari total jumlah siswa, lebih dari 30 persen berasal dari keluarga mixed marriage atau perkawinan campuran antara ibu warga negara Indonesia dan ayah berkewarganegaraan asing.
Sebagian dari mereka juga memiliki kewarganegaraan ganda sebelum menentukan status kewarganegaraannya saat dewasa.
Meski berada di Arab Saudi, SIJ tetap menerapkan kurikulum nasional Indonesia. Namun, penerapannya disesuaikan dengan kondisi setempat.
Salah satu penyesuaian dilakukan pada kalender akademik. Saat musim haji berlangsung, kegiatan belajar mengajar harus diliburkan sehingga sekolah perlu mengatur kembali jadwal pembelajaran.
Selain itu, SIJ juga memberikan penguatan pada sejumlah program yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Salah satunya adalah program tahfiz Al Quran yang menjadi program unggulan sekolah.
Menariknya, pengajar tahfiz di SIJ didatangkan langsung dari Mesir. Kemampuan bahasa juga menjadi perhatian penting mengingat para siswa hidup di lingkungan multibahasa yang mempertemukan bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, menurut Mahrani, tugas SIJ tidak hanya berfokus pada aspek akademik.
Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan identitas kebangsaan kepada anak-anak Indonesia yang lahir dan besar di luar negeri.
Sebagian siswa bahkan belum pernah mengunjungi Indonesia. Karena itu, sekolah membiasakan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama komunikasi serta menanamkan budaya menghormati guru melalui salam dan cium tangan. Berbagai kegiatan sekolah juga dirancang untuk memperkenalkan nilai-nilai dan tradisi Nusantara.
"Anak-anak harus tetap mengenal Indonesia meskipun mereka lahir dan besar di Arab Saudi," kata Mahrani.
Bagi banyak keluarga Indonesia di Arab Saudi, SIJ menjadi penghubung antara anak-anak mereka dengan akar budaya Indonesia yang selama ini lebih banyak dikenal melalui cerita orang tua.
Di tengah berbagai keterbatasan, SIJ memiliki prinsip yang terus dijaga, yakni memastikan seluruh anak Indonesia tetap memperoleh akses pendidikan. Karena itu, sekolah tidak menerapkan sistem zonasi, jalur prestasi, maupun syarat perpindahan orang tua sebagaimana yang berlaku di Indonesia.
Selama seorang anak berstatus warga negara Indonesia dan ingin bersekolah, SIJ akan berupaya memberikan solusi agar dapat mengikuti pendidikan.
"Tidak boleh ada anak Indonesia yang putus sekolah atau tidak mendapatkan akses pendidikan," tegas Mahrani.
Komitmen tersebut kerap menghadirkan tantangan tersendiri. Beberapa siswa datang terlambat mendaftar sehingga usia dan jenjang pendidikan mereka tidak lagi sesuai. Meski demikian, sekolah tetap berupaya mencarikan jalan keluar agar mereka dapat melanjutkan pendidikan. SIJ juga menerapkan pendidikan inklusif melalui kelas khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Program tersebut menjadikan SIJ sebagai satu-satunya Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN) yang memiliki layanan pendidikan khusus bagi siswa berkebutuhan khusus. Program ini mulai diterapkan sejak tahun ajaran sebelumnya sebagai respons terhadap kebutuhan peserta didik.
Saat ini terdapat sekitar 14 siswa berkebutuhan khusus yang mendapatkan layanan sesuai karakteristik masing-masing, termasuk siswa dengan disleksia dan spektrum autisme.
Mereka menggunakan kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan individu. Sistem penilaiannya pun tidak hanya berupa angka rapor, tetapi juga deskripsi perkembangan dan capaian belajar yang dapat menjadi panduan bagi orang tua.
HadapiKeterbatasanGurudanRuangKelas
Selain keterbatasan ruang kelas, SIJ juga menghadapi tantangan pada jumlah tenaga pengajar.
Untuk memperluas akses pendidikan, sekolah mengembangkan program PKBM melalui skema Kejar Paket A, B, dan C.
Pembelajaran dilakukan secara daring, sementara siswa hadir ke sekolah pada waktu-waktu tertentu untuk mengikuti kegiatan akademik dan evaluasi.
Apabila tersedia kursi kosong di kelas reguler, peserta didik PKBM dapat dipindahkan ke jalur pendidikan formal.
Skema tersebut memungkinkan lebih banyak anak Indonesia di Arab Saudi tetap mendapatkan layanan pendidikan meskipun daya tampung sekolah masih terbatas.
Saat ini, rasio guru dan siswa masih menjadi tantangan besar. Dengan 56 guru yang melayani 1.368 siswa, setiap tenaga pendidik harus menangani jumlah peserta didik yang jauh lebih besar dibandingkan standar ideal.
Berdasarkan perhitungan sekolah, jumlah guru yang ada sebenarnya hanya cukup untuk melayani sekitar 600 siswa.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, komite sekolah menghadirkan guru lokal melalui pembiayaan yang berasal dari sumbangan orang tua dan sistem subsidi silang.
Dana yang sama juga digunakan untuk membantu lebih dari 100 siswa yatim yang bersekolah di SIJ.
MenantiKampusPermanen
Di balik berbagai pencapaiannya, SIJ hingga kini masih menempati gedung sewa dengan biaya mencapai Rp 6,5 miliar per tahun.
Namun, harapan untuk memiliki kampus permanen mulai terbuka setelah Pemerintah Arab Saudi menyetujui penyewaan lahan selama 50 tahun bagi kebutuhan sekolah tersebut.
Pembangunan kampus nantinya akan melibatkan tiga kementerian, yakni Kementerian Luar Negeri yang menangani penyediaan lahan, Kementerian Pekerjaan Umum yang bertanggung jawab terhadap pembangunan fisik, serta Kementerian Pendidikan yang menyiapkan pengelolaan dan sarana pendidikan.
Mahrani menilai berbagai kunjungan pejabat Indonesia ke SIJ dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya perhatian serius pemerintah terhadap pendidikan anak-anak Indonesia di Arab Saudi. Meski proses pembangunan masih berlangsung secara bertahap, ia optimistis kampus permanen dapat segera terwujud.
Bagi ribuan anak Indonesia yang tumbuh jauh dari kampung halaman, SIJ bukan sekadar tempat belajar. Sekolah tersebut menjadi rumah kecil Indonesia di Tanah Suci, tempat nilai-nilai kebangsaan dan identitas Indonesia terus diwariskan dari generasi ke generasi.