Ahmad Hajri, mahasiswa Al-Azhar Mesir yang menjadi petugas transportasi PPIH Arab Saudi (Foto: MCH 2026)
MAKKAH, (ERAKINI) - Layanan bus selawat menjadi salah satu fasilitas penting yang membantu mobilitas jemaah haji Indonesia selama berada di Kota Makkah. Bus ini melayani perjalanan jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram dan sebaliknya selama 24 jam penuh.
Setiap bus selawat ditempel stiker nomor sesuai rute yang dilayani. Misalnya, bus nomor 5 melayani sekitar 10 hotel di Sektor 1 wilayah Syishah.
Layanan Transportasi Daerah Kerja Makkah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi telah membagi operasional bus selawat ke dalam 23 rute yang tersebar di 10 sektor di lima wilayah Makkah, yakni Syishah, Raudhah, Misfalah, Jarwal, dan Aziziyah.
Di setiap rute terdapat sejumlah halte yang dijaga petugas transportasi selama 24 jam secara bergantian. Para petugas bekerja dalam dua sif dengan durasi masing-masing 12 jam.
Salah satu petugas halte adalah Ahmad Hajri, mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir. Hajri bertugas di halte nomor 3 sektor 4 wilayah Syishah-Raudhah.
"Kami disebar ke halte-halte. Terus sekarang kita kerja itu 12 jam per hari. Kalau saya dapat jadwal dari 8 pagi ke 8 malam," kata Hajri saat ditemui Media Center Haji (MCH), Kamis (14/5/2026).
Menurut Hajri, keberadaan petugas halte sangat penting karena tidak semua jemaah memahami sistem rute bus shalawat, termasuk tempat naik dan turun bus.
"Jadi banyak jemaah yang tidak bisa komunikasi, bahkan sebatas untuk men-stop busnya juga enggak bisa," ujar dia.
Hajri mengatakan, petugas halte berperan membantu jemaah agar dapat menuju Masjidil Haram tanpa kendala. Selain membantu komunikasi, petugas juga menangani berbagai persoalan teknis di lapangan.
Misalnya membantu jemaah lanjut usia atau yang kesulitan naik bus, hingga memastikan jemaah turun di halte yang tepat.
"Karena kita ada beberapa halte, ini halte tiga yang saya jaga, di depan ada halte empat. Kalau sana enggak ada penjaga di sini, bisa-bisa jemaah los gitu, langsung ke halte empat," kata Hajri.
Menurut dia, jarak antarahalte cukup jauh sehingga pengawasan petugas menjadi sangat penting.
"Jadi salah satu tugas kita men-stop bus-bus yang datang dari masjid, membawa jemaah," ujar dia.
Hajri menyebut, halte yang dijaganya melayani empat hotel yang mayoritas dihuni jemaah asal Jawa Timur.
"Kalau telat untuk turun, mereka keburu dibawa ke rombongan halte empat, itu saudara-saudara kita dari Lombok. Jadi itu salah satu kenapa harus ada penjaga di sini," kata pemuda asal Provinsi Jambi tersebut.