Sebuah jet tempur F-15E Eagle Angkatan Udara AS (USAF), yang dilaporkan merupakan jenis jet yang ditembak jatuh. (Foto: AFP).
WASHINGTON, (ERAKINI) - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak yang lebih genting setelah dua pesawat militer AS dilaporkan ditembak jatuh dalam insiden terpisah pada Jumat (3/4/2026). Dari kejadian tersebut, satu awak berhasil ditemukan, sementara nasib awak lainnya masih belum diketahui hingga kini.
Peristiwa ini menjadi titik balik berbahaya dalam perang yang telah berlangsung hampir lima minggu. Insiden tersebut sekaligus menyoroti tingginya risiko operasi udara, meskipun Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya menguasai penuh wilayah udara.
Ini juga merupakan kali pertama pesawat militer AS berhasil dijatuhkan sejak konflik dimulai. Ironisnya, kejadian ini terjadi hanya dua hari setelah Trump menyampaikan klaim tegas dalam pidato nasionalnya bahwa AS telah “mengalahkan dan benar-benar menghancurkan Iran” serta berjanji akan segera mengakhiri konflik tersebut. “...akan menyelesaikan pekerjaan ini, dan kami akan menyelesaikannya dengan sangat cepat,” demikian pernyataan Trump.
Meski demikian, laporan dari NBC menyebutkan bahwa Trump menegaskan insiden jatuhnya pesawat tidak akan mengganggu proses negosiasi damai yang tengah diupayakan.
Menurut media Iran, warga sipil bahkan ikut menembaki helikopter AS yang tengah menjalankan misi pencarian dan penyelamatan di lokasi jatuhnya pesawat, yang diduga merupakan jet tempur F-15E berawak dua orang.
Pasukan Korps Garda Revolusi Iran kini dilaporkan menyisir wilayah barat daya Iran untuk menemukan awak yang hilang. Pemerintah setempat bahkan menjanjikan hadiah bagi siapa pun yang berhasil menangkap atau melumpuhkan personel musuh. “Pasukan militer telah melancarkan operasi pencarian untuk menemukan pilot pesawat tempur Amerika yang tertembak hari ini,” demikian dilaporkan kantor berita Fars.
Seorang reporter televisi lokal juga menyerukan kepada warga: “Jika Anda menangkap pilot musuh hidup-hidup dan menyerahkannya kepada polisi dan pasukan militer, Anda akan menerima hadiah dan bonus yang berharga.”
Dalam insiden lain, media pemerintah Iran mengklaim sebuah pesawat tempur A-10 milik AS juga jatuh di Teluk Arab setelah terkena sistem pertahanan mereka. Pihak Pentagon dan Komando Pusat AS belum memberikan tanggapan resmi atas kejadian ini.
Sementara itu, analis citra forensik William Goodhind menyebutkan bahwa serpihan yang beredar di media sosial menunjukkan kemiripan dengan F-15E Strike Eagle, pesawat tempur yang biasanya membawa dua awak.
Di tengah situasi tersebut, serangan baru kembali mengguncang kawasan. Ledakan besar dilaporkan terjadi di Teheran utara, sementara militer Israel mengonfirmasi adanya gelombang serangan rudal terbaru dari Iran yang memicu sistem pertahanan udara mereka.
Konflik ini sendiri bermula lebih dari sebulan lalu akibat serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan luas di kawasan Timur Tengah. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara militer, tetapi juga mengguncang ekonomi global dan kehidupan jutaan orang.
Ketidakpastian nasib salah satu awak AS yang hilang kini meningkatkan tekanan bagi Washington, terutama di tengah minimnya dukungan publik dan belum terlihatnya tanda-tanda perdamaian. Iran dilaporkan menolak pertemuan dengan pejabat AS dalam waktu dekat, meskipun upaya mediasi yang dipimpin Pakistan terus dilakukan. Namun, negosiasi gencatan senjata disebut mengalami kebuntuan.
Konflik semakin memanas sejak serangan awal yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari. Sejak saat itu, ribuan korban jiwa berjatuhan, dan ancaman terhadap stabilitas ekonomi dunia semakin nyata. Data dari Komando Pusat AS menyebutkan sedikitnya 13 personel militer AS tewas dan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka.
Iran terus melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel, serta menargetkan negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS. Namun, negara-negara tersebut sejauh ini masih menahan diri untuk tidak terlibat langsung demi menghindari eskalasi yang lebih luas.