Seorang pria Palestina mencoba memadamkan api dari truk yang terbakar setelah serangan pemukim Israel di desa Beit Lid, sebelah timur Tulkarem di Tepi Barat yang diduduki. (Foto: AFP).
DAYR ISTIYA, (ERAKINI) - Kekerasan di Tepi Barat kembali memuncak. Dua warga Palestina tewas ditembak pasukan Israel, sementara sebuah masjid kembali menjadi sasaran amukan para pemukim ekstremis. Di tengah pendudukan yang telah berlangsung puluhan tahun, warga Palestina terus menghadapi tindakan brutal tanpa henti, dan tanpa keadilan.
Melansir Arab News, di Deir Istiya, Palestina utara, para pemukim Israel dilaporkan membakar Masjid Hajja Hamida. Asap hitam menghitamkan dinding-dinding masjid, mushaf-mushaf Al-Qur’an hangus terbakar, dan grafiti bernada kebencian memenuhi tembok suci tersebut.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam tindakan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap tempat ibadah dan bukti nyata ideologi rasis yang mengakar dalam kelompok pemukim, sebuah tindakan yang terus terjadi karena mereka merasa dilindungi oleh otoritas pendudukan.
Di lokasi berbeda, dekat Karmei Zur, militer Israel menembak mati dua warga Palestina yang dituding sebagai pelaku teror tanpa memberikan bukti ataupun penjelasan memadai. Pernyataan resmi diberi, tetapi detail kosong, sementara pihak Palestina juga tak diberi ruang untuk menyampaikan fakta versi mereka.
Kebiasaan lama kembali terulang: warga Palestina tewas, namun kebenaran peristiwa itu tenggelam dalam narasi sepihak.
Gelombang serangan pemukim meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Situasi ini bahkan memaksa petinggi militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengeluarkan kecaman keras, suatu langkah yang jarang terjadi.
Ia menyebut serangan-serangan itu telah melewati garis merah dan menghambat tugas militer. Namun di lapangan, warga Palestina mengatakan hal yang sama sudah berlangsung bertahun-tahun: pemukim menyerang seenaknya, pasukan Israel membiarkan.
Lebih dari setengah juta pemukim kini tinggal di tanah Palestina yang dirampas, di permukiman-permukiman yang jelas melanggar hukum internasional. Sebagian dari mereka aktif melakukan kekerasan terhadap warga lokal, tetapi hampir tak pernah ada yang dihukum.
Laporan OCHA bahkan mencatat Oktober 2025 sebagai bulan paling brutal sejak pencatatan dimulai pada 2006, dengan 264 serangan pemukim yang merusak rumah, lahan, hewan ternak, hingga nyawa warga Palestina.
Sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023, kekerasan di Tepi Barat meningkat drastis. 1.003 warga Palestina tewas ditembak pasukan maupun pemukim Israel. 43 warga Israel, termasuk tentara, meninggal dalam serangan-serangan terpisah. Perbandingan ini mencerminkan kenyataan pahit: ketimpangan kekuatan dan dampak yang tak seimbang dalam konflik yang terus berlanjut.