Para pelayat duduk di samping jenazah seorang warga Palestina yang tewas dalam serangan tentara Israel di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Rabu. (Foto: AP).
GAZA, (ERAKINI) – Di tengah harapan rapuh untuk perdamaian, Israel kembali menumpahkan darah rakyat Palestina. Serangan udara brutal yang dilancarkan pada Rabu (29/10/2025) di wilayah Jalur Gaza menewaskan sedikitnya 104 warga sipil, termasuk 46 anak-anak dan 20 perempuan, menurut laporan resmi Kementerian Kesehatan .
Tragedi ini terjadi hanya sehari setelah seorang tentara Israel dilaporkan tewas dalam sebuah insiden di wilayah “garis kuning”, zona yang seharusnya aman berdasarkan gencatan senjata yang disepakati pada 10 Oktober. Namun, alih-alih menahan diri, militer Israel justru melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah wilayah di Gaza dengan dalih “membalas” kematian tentaranya.
Militer Israel berdalih bahwa serangan itu menargetkan pos militer Hamas dan gudang senjata di Beit Lahia, Gaza utara, serta sejumlah terowongan di wilayah padat penduduk. Namun, saksi mata di lapangan menyebut bom-bom dijatuhkan tanpa pandang bulu, menghancurkan rumah-rumah warga dan menewaskan seluruh keluarga.
Di kawasan Nusseirat, Gaza bagian tengah, keluarga besar Abu Dalal menjadi korban kebiadaban tersebut. Rumah mereka rata dengan tanah dalam semalam. Sembilan anggota keluarga, termasuk anak-anak kecil, ditemukan tewas dan dimasukkan ke kantong jenazah putih yang dibawa ke pemakaman dengan truk terbuka.
“Mereka semua sudah tiada. Satu keluarga dihapus dari catatan sipil—ayah, ibu, anak, menantu, dan cucu-cucunya. Tak ada yang tersisa,” ujar Wael Najem (52), tetangga korban dengan suara bergetar.
Serangan terbaru ini menjadi eskalasi paling mematikan sejak gencatan senjata diberlakukan. Warga Gaza yang sebelumnya mulai berbenah kini kembali dihantui trauma lama. “Suara pesawat dan ledakan membuat kami merasa perang sudah dimulai lagi,” kata Ismail Zayda (40), pengungsi yang kini hidup di tenda bersama 25 anggota keluarganya di Gaza Barat.
Di tengah kekacauan, Amerika Serikat, yang disebut sebagai pendukung utama kesepakatan gencatan senjata, tetap membela Israel. Mantan Presiden Donald Trump menilai serangan balasan itu wajar dan menyatakan tidak ada yang akan mengancam gencatan senjata. “Israel hanya membalas. Mereka seharusnya memang membalas,” ujar Trump dari pesawat kepresidenan Air Force One.
Pernyataan itu menuai kritik dari banyak pihak yang menilai Washington menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina, sementara Qatar, sebagai mediator, menyebut tindakan Israel “sangat mengecewakan dan membuat frustrasi.”
Menurut perjanjian gencatan senjata, Hamas telah sepakat membebaskan semua sandera hidup sebagai imbalan atas pembebasan hampir 2.000 tahanan Palestina, serta penarikan mundur pasukan Israel dari Gaza. Namun, hingga kini, Israel tetap menggempur wilayah sipil, menuduh Hamas melanggar kesepakatan karena belum menyerahkan jenazah sandera yang tewas.
Padahal, pihak Hamas menyatakan tengah melakukan pencarian dan pengumpulan jenazah di tengah reruntuhan yang ditinggalkan oleh serangan Israel sendiri.
Tragedi ini memperlihatkan kontradiksi mencolok antara klaim gencatan senjata dan realitas di lapangan. Serangan yang disebut terarah oleh Israel justru menghancurkan rumah, masjid, serta fasilitas umum.
Sementara dunia menonton, Gaza kembali menangis. Anak-anak menjadi korban, keluarga hancur, dan tanah Palestina kembali memerah oleh darah warganya sendiri, di bawah bayang-bayang kekuasaan militer yang terus mengabaikan nilai kemanusiaan. “Tidak ada yang tersisa untuk kami,” ujar seorang ibu di kamp pengungsian Khan Younis. “Hanya doa agar dunia mau melihat kami bukan sebagai angka, tapi sebagai manusia.”