Sirene serangan udara berbunyi di Bahrain pada hari Senin (13/7/2026) dan warga diimbau untuk mencari perlindungan menyusul serangan tersebut. (Foto: AFP).
TEHERAN, (ERAKINI) - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat tajam. Pemerintah Iran menegaskan tidak akan lagi terikat pada nota kesepahaman yang telah disepakati apabila Washington gagal memenuhi komitmennya untuk mengakhiri dan menghormati isi yang telah dibuat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan Teheran akan mengambil langkah serupa setiap kali pihak Amerika dinilai mengabaikan kewajibannya. "Setiap kali pihak lain gagal memenuhi kewajibannya, kami pun tidak menjalankan kewajiban kami. Kami akan terus bertindak demikian," tegas Baqaei dalam konferensi pers di Teheran, Senin.
Meski situasi semakin panas, Iran menyatakan masih menjalin komunikasi dengan sejumlah negara mediator, termasuk Qatar, Pakistan, dan Oman, guna mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas. "Peran para mediator adalah melanjutkan upaya mereka untuk mencegah eskalasi ketegangan," ujar Baqaei.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, laporan media Iran menyebutkan suara ledakan terdengar di sekitar Bandar Abbas dan Pulau Qeshm pada Senin siang. Situasi ini terjadi bersamaan dengan klaim Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang menyatakan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Menurut kantor berita resmi IRNA, Iran mengklaim menyerang Pangkalan Udara Prince Hassan di Yordania, pusat komando drone militer AS di Bahrain, serta sejumlah fasilitas militer termasuk Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait. Sistem radar di Oman juga disebut menjadi sasaran dalam gelombang serangan balasan terbaru tersebut. Namun, negara-negara yang menjadi target langsung bergerak melakukan langkah pertahanan.
Militer Yordania mengonfirmasi bahwa sejumlah rudal Iran memasuki wilayah udaranya, tetapi empat roket berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran. "Setiap upaya untuk melanggar kedaulatan negara akan ditanggapi dengan tindakan tegas," tegas militer Yordania.
Di Kuwait, angkatan bersenjata setempat menyatakan sedang menghadapi ancaman udara yang masuk ke wilayah negaranya. "Angkatan Bersenjata saat ini sedang mencegat target udara yang bermusuhan di dalam wilayah udara Kuwait," demikian pernyataan resmi yang dikutip kantor berita KUNA.
Sementara itu, Bahrain menuduh Iran tidak hanya menargetkan fasilitas militer, tetapi juga membahayakan warga sipil melalui serangan rudal dan pesawat nirawak. Komando Umum Militer Bahrain menyebut sistem pertahanan udara mereka berhasil menghancurkan sejumlah ancaman yang datang pada Senin (13/7/2026) pagi. "Iran terus melakukan pendekatan bermusuhan secara sistematis melalui serangan keji menggunakan rudal dan drone yang menargetkan warga sipil di Kerajaan Bahrain," demikian pernyataan militer Bahrain.
Pemerintah Bahrain bahkan membunyikan sirene peringatan serangan rudal sebanyak dua kali dan meminta seluruh warga segera mencari perlindungan. "Warga negara dan penduduk diimbau untuk tetap tenang dan menuju tempat aman terdekat," tulis Kementerian Dalam Negeri Bahrain melalui akun resminya.
Sebelumnya, Iran telah mengeluarkan ancaman untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Selain itu, Teheran juga mengancam akan meningkatkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan Teluk yang dianggap mendukung operasi militer Amerika Serikat.
Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan terhadap sebuah kapal komersial di Selat Hormuz yang menyebabkan kebakaran hebat hingga awak kapal terpaksa dievakuasi. Perkembangan ini semakin mengancam keberlangsungan kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran yang sebelumnya dirancang untuk mengakhiri perang yang pecah sejak akhir Februari lalu. Konflik tersebut bermula setelah operasi gabungan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan memicu gelombang balasan dari Teheran.
Di tengah situasi yang semakin tidak menentu, para mediator internasional kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan jalur diplomasi. Upaya tersebut semakin berat setelah Presiden Donald Trump pekan ini menyatakan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan telah berakhir. Jika tidak segera ditemukan titik temu, eskalasi terbaru ini berpotensi menyeret lebih banyak negara di Timur Tengah ke dalam pusaran konflik yang semakin luas dan mengancam stabilitas kawasan maupun ekonomi global.