Kapal-kapal kargo berlabuh di dekat Selat Hormuz di lepas pantai timur UEA dalam cuplikan gambar dari rekaman video pada 12 Juli 2026. (Foto: AFP).
SINGAPURA, (ERAKINI)- Ketegangan yang kembali meningkat antara Amerika Serikat dan Iran mulai berdampak langsung pada salah satu jalur energi terpenting di dunia. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan turun ke level terendah dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap keselamatan kapal-kapal yang melintas.
Berdasarkan data pelacakan pelayaran yang dihimpun Kpler, hanya enam kapal yang tercatat melintasi Selat Hormuz pada Minggu. Jumlah tersebut menjadi yang terendah dalam lima minggu terakhir dan mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku industri pelayaran di tengah ketidakpastian keamanan kawasan.
Data pelayaran menunjukkan sejumlah kapal tanker masih melintasi selat tersebut, termasuk kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) bernama Humanity yang mengangkut sekitar dua juta barel minyak Iran.
Selain itu, tanker Capetan Andreas juga tercatat keluar dari kawasan Teluk dengan membawa sekitar 500 ribu barel produk minyak asal Kuwait. Di sisi lain, tiga kapal tanker kosong memasuki kawasan Teluk untuk melakukan pemuatan minyak.
Para pelaku industri mencatat bahwa banyak kapal tanker memilih mematikan sistem transponder saat melintasi Selat Hormuz sebagai langkah pengamanan tambahan di tengah situasi yang tidak menentu.
Salah satu perkembangan yang menarik perhatian adalah tidak adanya kapal pengangkut gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) yang tercatat memasuki Selat Hormuz selama akhir pekan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru mengenai potensi gangguan pasokan energi global apabila situasi keamanan terus memburuk.
Data Kpler juga memperlihatkan hanya satu kapal tanker yang dikendalikan oleh Abu Dhabi National Oil Company yang keluar dari selat antara 10 hingga 12 Juli. Kapal tersebut diketahui berlayar menuju Pelabuhan Dahej di India.
Penurunan aktivitas pelayaran terjadi di tengah berlanjutnya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. United States Central Command menyatakan bahwa pasukan AS telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru yang menyasar puluhan target di berbagai wilayah Iran dengan menggunakan amunisi presisi.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas komersial internasional. Namun sebelumnya, Iran mengklaim jalur tersebut telah ditutup setelah sebuah kapal disebut melintasi rute yang tidak disetujui dan kemudian menjadi sasaran serangan.
Ketegangan semakin meningkat setelah Garda Revolusi Iran mengumumkan bahwa angkatan lautnya menghentikan dua kapal di Selat Hormuz pada malam sebelumnya.
Menurut pernyataan resmi yang disampaikan pada Senin, kedua kapal tersebut dihentikan setelah sistem kapal mereka dimatikan saat beroperasi di kawasan perairan strategis tersebut. Meski demikian, pihak Garda Revolusi tidak mengungkap identitas maupun kebangsaan kapal yang terlibat.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar internasional. Sebelum konflik terbaru pecah, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur sempit tersebut setiap harinya.
Penurunan jumlah kapal yang melintas menjadi sinyal bahwa risiko keamanan mulai memengaruhi aktivitas perdagangan energi global. Jika eskalasi terus berlanjut, gangguan terhadap distribusi minyak dan gas berpotensi memberikan tekanan baru terhadap stabilitas pasar energi internasional.