Menteri Pertahanan Israel Israel Katz. (Foto: AFP).
YERUSALEM, (ERAKINI) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah pemerintah Israel mengisyaratkan kesiapan untuk melancarkan serangan militer baru terhadap Iran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa militernya siap kembali bertindak jika Teheran dianggap masih menimbulkan ancaman keamanan.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah memanasnya kembali konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran dunia akan kemungkinan pecahnya perang besar baru di kawasan, meskipun sebelumnya telah tercapai gencatan senjata pada April serta kesepakatan antara Washington dan Teheran pada Juni untuk mengakhiri permusuhan.
Dalam sebuah upacara militer, Katz menegaskan bahwa pasukan Israel berada dalam kondisi siap tempur dan dapat kembali melancarkan operasi ke wilayah Iran kapan saja apabila situasi mengharuskannya.
"Militer siap dan siaga untuk melanjutkan pertempuran, guna merebut kembali keunggulan udara dan melancarkan serangan lagi... di Iran, untuk melenyapkan ancaman, termasuk untuk ketiga kalinya jika perlu," ujar Katz.
Ia juga memperingatkan bahwa apabila Israel memutuskan untuk kembali melakukan operasi militer, skala serangan yang dilakukan akan jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. "Jika kami harus kembali bertindak, kami akan melakukannya, dengan kekuatan yang jauh lebih besar," tegasnya.
Nada serupa juga disampaikan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Dalam pidatonya pada acara yang sama, Netanyahu menyatakan bahwa rangkaian operasi militer sebelumnya telah berhasil melemahkan posisi Iran dan jaringan sekutunya di kawasan.
Menurut Netanyahu, tekanan militer yang dilakukan Israel telah mengurangi kemampuan strategis Teheran secara signifikan. Namun, ia mengingatkan bahwa ancaman belum sepenuhnya berakhir. "Poros Iran kini lebih lemah dari sebelumnya, sementara Israel lebih kuat dari sebelumnya," kata Netanyahu.
Ia juga menyoroti kemampuan operasional Angkatan Udara Israel yang disebut mampu menjangkau berbagai wilayah di Timur Tengah. "Kami telah membuktikan bahwa jangkauan luas Angkatan Udara Israel mampu mencapai mana saja, mulai dari Yaman hingga Iran. Namun, kita juga harus mengakui bahwa operasi ini belum usai," lanjutnya.
Pernyataan para pemimpin Israel tersebut muncul ketika kawasan Timur Tengah kembali diliputi ketidakpastian akibat meningkatnya aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran internasional bahwa gencatan senjata yang sempat meredakan ketegangan dapat runtuh sewaktu-waktu dan menyeret kawasan ke dalam konflik yang lebih luas.
Menurut kronologi yang disampaikan dalam laporan ini, gelombang perang terbaru bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran. Operasi tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, dan memicu eskalasi besar di kawasan. Konflik tersebut juga disebut menjadi operasi militer kedua yang dilakukan Israel terhadap Iran setelah perang selama 12 hari yang terjadi pada 2025.