Hamas Sebut Siap Bebaskan Seluruh Sandera yang Tersisa Demi Akhiri Perang di Gaza
Akhmad Baihaqi Arsyad







Hal itu dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang di daerah kantong itu.
Melansir Arab News, dalam pidato yang disiarkan di televisi, Khalil Al-Hayya, yang memimpin tim negosiasi Hamas untuk pembicaraan tidak langsung dengan Israel, mengatakan kelompok itu menolak kesepakatan gencatan senjata sementara.
“Netanyahu dan pemerintahannya menggunakan perjanjian parsial sebagai kedok untuk agenda politik mereka, yang didasarkan pada kelanjutan perang pemusnahan dan kelaparan, bahkan jika harganya adalah mengorbankan semua tahanannya (sandera). Kami tidak akan menjadi bagian dari kebijakan ini,” kata Hayya, merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Para mediator Mesir telah berupaya untuk menghidupkan kembali perjanjian gencatan senjata Januari yang menghentikan pertempuran di Gaza sebelum gagal bulan lalu, tetapi hanya ada sedikit tanda kemajuan dengan Israel dan Hamas saling menyalahkan atas tidak adanya kesepakatan.
Putaran perundingan terakhir pada hari Senin di Kairo untuk memulihkan gencatan senjata dan membebaskan sandera Israel berakhir tanpa ada terobosan yang jelas, kata sumber-sumber Palestina dan Mesir.
Hayya mengatakan bahwa Hamas menerima usulan dari para mediator, Qatar dan Mesir, untuk membebaskan beberapa sandera sebagai imbalan bagi warga Palestina yang dipenjara oleh Israel dan memulai perundingan tentang penerapan fase kedua dari perjanjian gencatan senjata yang mencakup penghentian perang dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Ia menuduh Israel menawarkan usulan balasan dengan "syarat-syarat yang mustahil."
