Pejuang Hamas mengawal kendaraan Palang Merah Internasional selama upacara pertukaran sandera-tahanan pada 22 Februari 2025. (Foto: AFP)
KAIRO, (ERAKINI) - Seorang pejabat senior Hamas pada hari Senin (14/4/2025) mengatakan bahwa kelompok Palestina tersebut siap membebaskan semua sanderaIsrael dengan imbalan "pertukaran tahanan yang serius" dan menjamin bahwa Israel akan di .
Hamas terlibat dalam negosiasi di Kairo dengan mediator dari Mesir dan Qatar – dua negara yang bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk menengahi gencatan senjata di wilayah yang terkepung tersebut.
"Kami siap membebaskan semua tawanan Israel dengan imbalan kesepakatan pertukaran tahanan yang serius, diakhirinya perang, penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza dan masuknya bantuan kemanusiaan," kata Taher Al-Nunu, seorang pejabat senior Hamas dikutip dari Arab News, Selasa (15/4/2025).
Namun, ia menuduh Israel menghalangi kemajuan menuju gencatan senjata. "Masalahnya bukan jumlah tawanan, melainkan pendudukan mengingkari komitmennya, menghalangi pelaksanaan perjanjian gencatan senjata dan melanjutkan perang. Oleh karena itu, Hamas menekankan perlunya jaminan untuk memaksa pendudukan (Israel) mematuhi perjanjian tersebut,” imbuhnya.
Situs berita Israel Ynet pada hari Senin (14/4/2025) melaporkan bahwa sebuah proposal baru telah diajukan kepada Hamas. Berdasarkan kesepakatan tersebut, kelompok tersebut akan membebaskan 10 sandera hidup dengan imbalan jaminan AS bahwa Israel akan memasuki negosiasi untuk fase kedua gencatan senjata.
Fase pertama gencatan senjata, yang dimulai pada tanggal 19 Januari dan mencakup beberapa pertukaran sandera-tahanan, berlangsung selama dua bulan sebelum bubar. Upaya menuju gencatan senjata baru telah terhenti, dilaporkan karena perselisihan mengenai jumlah sandera yang akan dibebaskan oleh Hamas.
Sementara itu, Nunu mengatakan bahwa Hamas tidak akan melucuti senjata, sebuah syarat utama yang telah ditetapkan Israel untuk mengakhiri perang. "Senjata perlawanan tidak dapat dinegosiasikan," kata Nunu.
Perang di Gaza pecah setelah serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023 terhadap Israel. Serangan tersebut mengakibatkan kematian 1.218 orang, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel. Militan juga menyandera 251 orang, 58 di antaranya masih ditahan di Gaza, termasuk 34 orang yang menurut militer Israel telah tewas.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan pada hari Minggu bahwa sedikitnya 1.574 warga Palestina telah tewas sejak 18 Maret, ketika gencatan senjata berakhir, sehingga jumlah korban tewas secara keseluruhan sejak perang dimulai menjadi 50.944.