Ratusan wisudawan Universitas Harvard melakukan aksi walk out sebagai bentuk dukungan terhadap 13 mahasiswa yang tidak diperbolehkan ikut wisuda lantaran unjuk rasa pro-Palestina. Foto: The New York Times
WASHINGTON, (ERAKINI) - Ratusan wisudawanUniversitas Harvard melakukan aksi walk out sebagai bentuk dukungan terhadap 13 mahasiswa yang tidak diperbolehkan ikut wisuda lantaran unjuk rasa Pro-Palestina. Sembari meneriakkan "Bebaskan ," ratusan mahasiswa memilih meninggalkan ruangan wisuda.
Mengutip laporan New York Times, Jumat (24/5/2024), ratusan wisudawan memilih keluar dari ruangan saat hendak penyematan gelar sarjana pada Kamis pagi waktu setemppat. Kemarahan wisudawan dipicu keputusan Harvard Corporation pada hari Rabu yang melarang 13 sarjana baru menerima gelar mereka setelah protes mengenai perang Israel-Hamas beberapa waktu lalu.
Tindakan tersebut dipandang mahasiswa sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dibuat antara pengelola kampus dan mahasiswa.
"Pada semester ini, kebebasan berbicara dan ekspresi solidaritas kita menjadi sesuatu yang dapat dihukum (dibungkam), menjadika kelulusan kita menjadi tidak pasti," ujar juru bicara wisudawan Shruthi Kumar.
"Harvard, apakah kamu mendengarkan kami?" lanjut Kumas disambut dengan tepuk tangan gemuruh rekan-rekannya.
Maria Ressa, seorang jurnalis senior dan peraih Hadiah Nobel Perdamaian dan pembela kebebasan berpendapat, juga mengecam kebijakan Harvard yang membungkam kebebeasan bersuara mahasiswa. “Protes memberikan suara, mereka tidak boleh dibungkam,” tandasnya.
Saat upacara wisuda tersebut, sejumlah wisudaan juga membawa bendera Palestina dan mengibarkannya. Ada juga seseorang peserta yang mengibarkan bendera Israel. Sementara di luar ruangan, sebuah pesawat kecil yang membawa spanduk dengan gabungan bendera Israel dan Amerika, terbang rendah di atas Harvard Yard.
Spanduk berwarna merah juga menghiasi halaman kampus yang tetap tertutup untuk umum selama 20 hari setelah pengunjuk rasa pro-Palestina mendirikan perkemahan pada 24 April lalu. Tenda-tenda itu telah dibongkar pekan lalu setelah para mahasiswa mengumumkan bahwa pada 14 Mei mereka telah mencapai kesepakatan dengan pimpinan universitas.
Rektor sementara Universitas Harvard Alan Garber dalam pidatonya pada awal upacara wisuda sempat menyinggung perang yang masih berlangsung di Gaza.
"Beberapa di antara kita mungkin memilih untuk mengambil kebebasan mengekspresikan diri mereka untuk menarik perhatian pada peristiwa yang terjadi di dunia yang lebih luas," katanya.
"Momen kegembiraan ini bertepatan dengan momen ketakutan dan kengerian, kesedihan dan kemarahan, penderitaan dan kesakitan. Di tempat lain, orang-orang sedang mengalami hari-hari terburuk dalam hidup mereka," lanjut Garber yang kemudian meminta para peserta wisuda untuk mengheningkan cipta selama satu menit.
Universitas Harvard termasuk di antara ratusan kampus di seluruh AS yang dilanda protes berkepanjangan terhadap perang Israel-Palestina. Gejolak ini dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika lebih dari 30 organisasi mahasiswa di Harvard menandatangani surat terbuka yang menyatakan Israel bertanggung jawab atas serangan Hamas yang menewaskan lebih dari 1.200 orang dan sekitar 250 orang diculik waktu itu.
Reaksi terhadap surat tersebut dan lambatnya respons Harvard terhadap tuntutan agar mereka mengecam serangan Hamas sebagai terorisme, menyebabkan perselisihan di kampus. Mahasiswa pro-Palestina dikecam nama dan wajah mereka diedarkan di truk-truk di sekitar kampus. Mahasiswa Yahudi juga diserang dengan hinaan antisemit di media social.
Pada bulan Januari, presiden kulit hitam pertama di Harvard, Claudine Gay, terpaksa mengundurkan diri, setelah melontarkan tuduhan plagiarisme dalam karya akademisnya dan kesaksiannya yang buruk di hadapan komite kongres.
Ia gagal mengecam seruan genosida terhadap orang Yahudi sebagai pelanggaran kode etik Harvard. Bahkan gugus tugas antisemitisme menemui kontroversi mengenai pilihan ketua bersama, Derek J Penslar, seorang profesor sejarah Yahudi di Harvard, yang menuai kritik. Ia dianggap meremehkan tingkat antisemitisme di kampus.
Kontroversi terbaru mengenai disiplin siswa dimulai pada hari Jumat, setelah Harvard Out of Occupied Palestine mengatakan bahwa beberapa mahasiswa senior tidak akan diizinkan untuk lulus.
Pengumuman tersebut menimbulkan kehebohan, karena para pendukung mahasiswa mengatakan mereka dihukum karena melakukan protes damai. Meskipun Harvard tidak memberikan rincian kesalahan apa yang dilakukan mahasiswanya, pernyataan resmi menyebutkan pengunjuk rasa telah membuka paksa gerbang dan melecehkan serta mengintimidasi anggota staf.
Pada hari Senin, fakultas Harvard sempat mengumumkan bahwa mereka telah mengembalikan 13 mahasiswa tersebut ke daftar resmi mahasiswa yang memenuhi syarat untuk lulus. Kemudian pada hari Rabu, badan pengelola universitas menyangkal penyataan fakultas tersebut dan melarang mahasiswanya untuk lulus.