WASHINGTON, (ERAKINI) - Konflik Israel-Palestina selalu memicu reaksi dan protes di seluruh dunia, termasuk di lingkungan akademis seperti yang terjadi di Universitas Columbia di Amerika Serikat.
Universitas Columbia mengeluarkan ancaman terhadap para demonstran mulai skors hingga batasi ruang akademik. Juru bicara Universitas Columbia, Ben Chang dalam pernyataannya mengatakan bahwa para demonstran antiperang telah memilih untuk melakukan eskalasi ke situasi yang tidak dapat dipertahankan.
"Mahasiswa yang menduduki gedung akan diusir," kata juru bicara Universitas Columbia, Ben Chang dalam pernyataannya.
Hal ini menunjukkan betapa seriusnya universitas dalam menanggapi situasi tersebut.
Namun, di lain sisi, mahasiswa yang berdemonstrasi mempertaruhkan karier akademis mereka untuk menyuarakan keyakinan mereka, dan reaksi dari pihak administrasi universitas menunjukkan ketegangan antara kebebasan berpendapat dan keteraturan akademis.
Mereka menyatakan tidak akan meninggalkan fasilitas ‘Hind's Hall’ tersebut untuk mengenang warga Palestina Hind Rajab berusia 6 tahun yang dibunuh secara brutal di Gaza, kecuali tuntutan mereka dipenuhi. Mereka menuntut agar Columbia melakukan divestasi dari perusahaan-perusahaan Israel dan mengutuk serangan gencar Tel Aviv terhadap Jalur Gaza.
“Kami tidak bisa berdiam diri karena biaya kuliah dan tenaga kerja kami mendukung pembunuhan massal," kata Kelompok Mahasiswa Columbia untuk Keadilan di Palestina melalui sebuah pernyataan.
Selama dua pekan terakhir, lanjut pernyataan tersebut, para pelajar telah membahayakan keselamatan, rumah, pendidikan, dan karier mereka, mengetahui tidak ada universitas yang tersisa di Gaza karena bom yang didanai AS.
Sebelumnya, mahasiswa peserta aksi yang masih berada di lokasi perkemahan hingga Senin (29/4/2024) sore akan diskors dan akan dibatasi dari semua ruang akademik dan rekreasi. Mereka hanya dapat mengakses tempat tinggal masing-masing.
Juga, untuk mahasiswa senior yang dijadwalkan untuk lulus tidak akan diizinkan untuk melakukannya.
“Kemarin kami telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa pekerjaan Universitas tidak dapat terus-menerus diganggu oleh pengunjuk rasa yang melanggar peraturan. Jika terus melakukan hal ini, akan ada konsekuensi nyata,” ujar Chang.
Menurut Chang, hal tersebut tentang menanggapi tindakan para pengunjuk rasa yang bukan tujuan mereka.
"Seperti yang kami katakan kemarin, gangguan di kampus telah menciptakan lingkungan yang mengancam bagi banyak mahasiswa dan staf pengajar Yahudi kami dan gangguan bising yang mengganggu pengajaran, pembelajaran, dan persiapan. untuk ujian akhir,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Columbia Minouche Shafik menyatakan bahwa sekolah tidak akan melakukan divestasi tuntutan utama mahasiswa yang memprotes serangan Israel.
Namun, gerakan protes justru menjadi pemicu meluasnya aksi usai keputusan Shafik memanggil polisi untuk membubarkan paksa perkemahan awal dan menangkap pendemo yang melakukan aksi duduk pada 18 April 2024 lalu.
Hal tersebut justru semakin menguatkan para demonstran, dan perkemahan pun menyebar ke universitas-universitas di seluruh negeri meskipun ada penangkapan dan ancaman dari administrator universitas.
Sejak saat itu ratusan mahasiswa ditahan di kampus-kampus dengan protes menuntut universitas melakukan divestasi dari Israel dan mengutuk kebrutalannya di Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 34.000 warga Palestina, di mana sebagian besar perempuan dan anak-anak.